Kapan seorang manajer harus memuki karyawannya?

 

1. Pujian adalah bentuk apresiasi manajer terhadap karyawan

 

Salah satu bentuk mengapresiasi karya seseorang tanpa harus mengeluarkan banyak biaya adalah dengan cara memujinya. Pujian merupakan salah satu bentuk apresiasi seseorang terhadap orang lain yang paling murah dan tanpa biaya. Sayangnya banyak orang yang tidak mau melakukan hal tersebut dikarenakan gengsi. Padahal satu saja kalimat yang bernada pujian tulus bisa mengubah semuanya. Tidak percaya?

 

Suatu ketika, ada teman saya yang ingin resign dari kantornya. Alasan dia ingin keluar adalah karena ia tidak cocok dengan pekerjaannya yang terlalu berat dan sering lembur. Kebetulan teman saya tersebut adalah seorang wanita yang sudah menikah. Suami teman saya tersebut tidak melarang dia untuk bekerja. Keputusan untuk keluar adalah keputusan dia sendiri tanpa adanya pengaruh dari pihak lain.

 

Saat ia menyampaian keinginannya tersebut, sang manajer berkata “wah, sayang sekali ya, coba kamu pertimbangkan lagi, sebenarnya kamu ini merupakan salah satu karyawan yang berdedikasi tinggi, perusahaan butuh orang-orang seperti kamu, saya juga ada rencana mempromosikan kamu”.

 

Begitulah kira-kira yang dikatakan oleh manajer tersebut. Niat teman saya yang sangat kuat tersebut seketika runtuh ketika mendengarkan penuturan manajernya. Dia tidak menyangka bahwa selama ini dia begitu dihargai dan dianggap di perusahaan tempat ia bekerja. Pada akhirnya, dia tidak jadi keluar dan tetap bekerja di perusahaan tersebut.

 

Kejadian lain juga pernah dialami seorang karyawan yang sudah mengabdikan dirinya selama belasan tahun di sebuah perusahaan. Karena suatu sebab karyawan tersebut ingin resign dari perusahaan tempat ia bekerja. Sebenarnya karyawan tersebut sangat berharap sang manajer menahannya. Namun, apa yang ia harapkan tak sesuai dengan apa yang ia terima. Sang manajer tidak menahannya bahkan mendukung keputusannya tersebut untuk keluar. Dan akhirnya karyawan tersebut keluar.

 

Kadang seseorang memang merasa malu untuk mengakui kelebihan orang lain melalui sebuah kata-kata. Terlebih seorang atasan terhadap bawahan. Jangankan dalam lingkungan yang besar seperti perusahaan. Dalam lingkup yang kecil yaitu rumah tangga saja yang namanya pujian adalah sesuatu yang sebenarnya sangat dinantikan. Tak berarti kita melakukan sesuatu hanya untuk berharap pada pujian tentu saja tidak. Namun, setidaknya pujian bisa menggantikan semangat kita yang sedang letih dan membuat kita merasa dimanusiakan, dalam hal ini adalah karyawan.

 

Seorang pembantu rumah tangga misalnya, pasti akan merasa senang ketika sang majikan berkata “Nah, seperti ini lho Nem yang ibu minta, bagus,”. Sama juga dengan manajer. Apa salahnya dengan sebuah pujian sederhana dan tidak terlalu muluk, bila hal tersebut bisa membangkitkan semangat  karyawan.dan bila hal tersebut bisa membuat hubungan antara manajer dengan karyawan bisa menjadi lebih baik lagi.

 

Memberikan pujian kepada karyawan tak membuat seorang manajer menjadi lebih rendah dari karyawan tersebut. Justru sebaliknya, pujian yang tulus akan membuat karyawan tersebut merasa berarti. Dan apa yang dirasakan oleh karyawan tersebut ketika keberadaannya merasa begitu berarti. Karyawan tersebut akan menjadi lebih bersemangat.

 

Apa susahnya dengan kata-kata “seperti ini yang saya minta” atau “pekerjaanmu memuaskan” bisa juga seperti ini “ya memang seperti ini seharusnya”.

 

Adakah yang salah dengan kata-kata di atas?

 

Tentu saja tidak.

 

2. Pujian bisa meningkatkan kinerja dan produktivitas

 

Masih merupakan kelanjutan dari penjelasan di atas, bahwa pujian bisa meningkatkan kinerja dan kreativitas. Sebegitu besarkan pengaruh pujian terhadap kinerja karyawan? Nyatanya memang seperti itu.

 

Pujian memberikan stimulus terhadap seseorang untuk bisa berbuat lebih baik lagi. Pujian juga membuat karyawan merasa dianggap dan menjadi bagian penting dalam kesatuan tersebut.

Bayangkan misalnya dalam lingkup yang terkeci, yaitu keluarga, di mana antara anggota keluarga yang satu dengan yang lainnya saling tidak peduli. Bukankah banyak sekarag kita temui keluarga yang seperti itu. Antara anggota keluarga yang satu dengan yang lainnya tidak ada sinergi. Apa yang terjadi. Hubungan keluarga tersebut akan kering.

 

Sama halnya dengan perusahaan yang lingkupnya lebih luas. Karyawan ibarat anggota keluarga dalam perusahaan. Dalam bekerja mereka tak sekadar mencari nafkah untuk kebutuhan sehari-hari saja namun juga ada sesuatu yang bersifat non materi, yang disebut dengan rasa nyaman. Bagaimana cara memperoleh rasa aman tersebut. Salah satunya adalah dengan sikap manajer yang familiar dan tidak pelit dengan pujian.

 

Pujian yang tulus bisa meningkatkan kerja dan produktivitas karyawan. Karyawan juga membutuhkan pernghargaan dan tidak semua penghargaan bisa dinilai dengan uang yang notabene kasat mata. Ada juga penghargaan atau apresiasi yang berupa hal yang tak kasat mata seperti pujian. Dampak dari pujian tersebut bisa meningkatkan semangat karyawan yang kendor. Pujian juga tak harus dengan kata-kata yang berlebhan. Bisa saja hanya berupa kalimat singkat “semangat ya!” atau kalimat yang serupa. Namun, hanya dengan satu kalimat singkat sederhana tersebut dampaknya sungguh luar biasa.

 

Manajer harus berjiwa “melayani” dalam hal ini adalah dengan cara memberikan penghargaan berupa kata-kata yang memotivasi karyawan.

 

3. Pujian yang boomerang

 

Pernahkah kita merasa begitu geli dengan seseorang yang suka berlebihan dalam menyikapi sesuatu. Pernahkah kita justru merasa tidak percaya dengan kata-kata indah yang terlalu sering diungkapkan oleh orang lain. Mungkin bagi kita kata-kata indah tersebut terdengar begitu biasa karena terlalu sering kita dengarkan.

 

Pujian memang diperlukan, namun bila berlebihan juga berakibat tidak baik dan malah akan menurunkan wibawa seorang manajer. Memang, pada dasarnya segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik termasuk sikap manajer yang berlebihan terhadap karyawan juga tidaklah baik.

 

Seorang manajer yang tidak pernah memberikan apresiasi kepada karyawannya sama sekali juga bukanlah manajer yang baik karena itu artinya manajer tersebut tidaklah menghargai jerih payah karyawan tersebut. Namun, seorang manajer yang terlalu banyak memberikan kalimat-kalimat positifnya kepada karyawan juga tidak baik pula karena hal tersebut membuat sikap karyawan bisa menjadi tidak hormat terhadap sang manajer.

 

      Seorang manajer juga sebagai motivator bagi semua karyawannya. Manajer tak hanya sebagai pemimpin yang hanya bisa menuntut dan menuntut namun juga seseorang yang bisa mengerti kondisi lingkungan termasuk karyawannya. Manajer seharusnya tidak bersikap otoriter. Ada sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa semakin ingin seseorang dihargai orang tersebut justru akan semakin tidak dihargai, sebaliknya ketika seseorang memberikan kasih sayang dalam hal ini bisa berupa kata-kata yang memotivasi kepada lingkungan sekitar, maka saat itulah orang tersebut sedang memberi obat kepada dirinya sendiri. Obat tersebut bernama obat kehidupan. Namun, tentu dalam porsi yang secukupnya dan tidak berlebihan. Begitulah seharusnya seorang manajer menerapkan sikap tersebut.

 

Referensi:

Ariefiansyah, Miyosi dan Ryan Ariefiansyah. “Strategi Gila Menjadi Manajer No. 1”. 2011. Jakarta: Laskar Aksara.

The content does not represent the perspective of UC