Kata siapa anak SMA hanya mengerti hura-hura? Remaja usia belasan tersebut juga bisa mempersiapkan rencana selayaknya orang dewasa, salah satunya mempersiapkan tabungan untuk menikah. Toh, bila pun tidak jadi menikah, paling tidak yang bersangkutan sudah memiliki sejumlah uang yang bisa digunakan sebagai modal kerja. Jadi, tidak ada yang sia-sia.

 

Di tahun 2002, sebut saja Andy memiliki target menikah di tahun 2008. Pertimbangannya saat itu adalah di tahun 2008 dia sudah lulus kuliah dan sudah mendapatkan pekerjaan. Oleh karena Andy adalah anak yang mandiri, ia tak mau melibatkan orang tua. Andy ingin menikah di usia muda dengan biaya sendiri. Saat ia membuat rencana, Andy baru naik kelas tiga SMA. Mungkin bagi sebagian besar di antara kita, impian Andy tersebut dianggap impian anak sekolah yang akan hilang seiring dengan berjalannya waktu. Namun, kenyataannya tidak. Tekad Andy tetap kuat untuk menikah muda. Itu sebabnya Andy membuat planning-planning yang terkait dengan impiannya enam tahun kedepan (dari tahun 2002) yaitu:

  • Andy harus bekerja di perusahaan yang menggaji dia dengan gaji yang tinggi
  • Agar bisa mendapatkan pekerjaan yang mapan, Andy harus bisa masuk universitas yang bagus. Dengan asumsi masuk universitas yang bagus akan membuat Andy lebih mudah dalam mencari kerja
  • Agar bisa masuk ke universitas yang bagus, Andy harus rajin belajar

Adapun usaha-usaha Andy selama kuliah untuk mewujudkan impiannya tersebut adalah:

  • Bekerja paruh waktu sebagai asisten dosen dan staf di fakultas.
  • Mengikuti proyek dosen.
  • Mengikuti banyak organisasi untuk menambah pengalaman di bidang kemampuan emosional.
  • Menambah pengalaman bekerja sebagai sarana latihan sebelum bekerja pada “lahan” yang sesungguhnya.
  • Investasi emas dari hasil uang saku ditambah penghasilannya sebagai pekerja lepas
  • Menabung sebagian uang sakunya

Seperti rencana Andy yang sudah dituliskan dalam buku agendanya, di tahun 2007 setelah Andy lulus, dia langsung diterima bekerja karena pengalaman kerjanya yang banyak (tak hanya mengandalkan IPK semata). Setahun kemudian ia menikah. Semua itu seperti yang sudah ia rencanakan dan ditulis dalam buku agendanya.

 

Sama seperti Andy, kita semua tentu memiliki rencana dalam hidup ini. Mengapa rencana tersebut tidak kita tuliskan, terlebih bila terkait dengan masalah keuangan? Menuliskan rencana akan membantu kita untuk berusaha mewujudkannya. Bukankah kita sering mendengar dan membaca dari para motivator bahwa impian itu harus dituliskan?

 

Referensi:

Ariefiansyah, Miyosi. "Cash Flow Management untuk Awam & Pemula". 2012. Jakarta: Laskar Aksara.

The content does not represent the perspective of UC