Pada usia 20 tahun biasanya seseorang masih baru lulus kuliah, masih kuliah, atau bisa juga sudah bekerja. Memang, seharusnya pada usia 20an, seseorang dianjurkan untuk bekerja walaupun tidak fulltime. Hal tersebut selain bisa meringankan beban orang tua juga bisa melatih untuk me-manage uang dengan baik. Sangat terlihat bedanya mereka yang masih sangat bergantung dengan kedua orang tua dibandingkan dengan mereka yang sudah bekerja. Biasanya, yang sudah merasakan mencari uang sendiri, berapapun hasilnya, akan lebih bisa berhati-hati dibandingkan dengan mereka yang masih menjadi tanggungan orang tua.

 

Apakah pada usia 20an bisa menjadi investor?

 

Bila pada usia 20 tahun, seseorang sudah bekerja walaupun part time, maka akan menjadi keuntungan tersendiri karena dia bisa menyisihkan sebagian uangnya untuk berinvestasi. Namun, bila pada usia 20 tahun masih ditanggung orang tua, bukan berarti tidak bisa berinvestasi, karena justru uang saku dari orang tua tersebut bisa dijadikan modal investasi bila pandai mengaturnya.

 

Hanya saja yang perlu diperhatkan, pada usia 20an biasanya seseorang masih labih dan mudah terpengaruh. Keinginan mereka untuk mengonsumsi lebih tinggi daripada keinginan mereka untuk menabung. Padahal, uang yang mereka pergunakan untuk belanja dan hura-hura tersebut bisa dipergunakan untuk berinvestasi. Bukankah untuk berinvestasi tak perlu menunggu tua atau nanti. Bila bisa dilakukan sedini mungkin, itu lebih baik.

 

Sebaiknya, mereka yang masih berusia 20 tahun-an sudah memikirkan untuk berinvestasi. Beberapa hal berikut ini bisa dilakukan, yaitu:

 

  • Sisihkan 10% saja total pendapatan selama satu bulan yang mungkin bersumber dari orang tua ditambah penghasilan pribadi hasil kerja sambilan, untuk diinvestasikan. Sebaiknya menyisihkan di awal daripada menyisihkan setelah mempergunakan untuk kegiatan konsumsi. Biasanya, seseorang akan cenderung menghabiskan semua uang yang ia miliki bila tidak diatur sedari awal.
  • Catatlah 10% dari total penghasilan tersebut dan simpanlah di tempat yang sekiranya tidak bisa dijangkau. Bila ternyata 10% dari total pendapatan tersebut sudah banyak jumlahnya, maka jumlah tersebut bisa langsung diinvestasikan. Namun bila jumlahnya tidak krusial, sebaiknya disimpan dulu dan dikumpulkan hingga mendapatkan jumlah yang krusial
  • Bersikaplah disiplin dengan tidak menggunakan dana 10% tersebut, sekalipun dalam keadaan kepepet. Bila ada niat pasti bisa. Dan sekalinya kita melanggar untuk yang pertama kali, akan ada pelanggaran untuk yang kedua kali ketiga kali dan seterusnya.
  • Bila uang yang disimpan sudah terkumpul, mulailah berpikir untuk menginvestasikannya. Karena usia masih muda dan produktif, masa investasi yang dipilih sebaiknya yang berisiko rendah hingga tinggi. Alasannya adalah biar investor terlatih untuk menghadapi risiko investasi sedini mungkin. Karena bagaiamapun juga dalam berinvestasi diperlukan latihan dan mental untuk menerima dua kemungkinan yaitu risiko dan keuntungan. Melatih mental untuk menerima dua kemungkinan yang akan terjadi akan melatih investor menjadi lebih baik lagi sejak dini.
  • Dalam prakteknya tentu saja tidak serta merta uang yang berhasil dikumpulkan tersebut dipergunakan untuk investasi saat itu juga. Misalnya bulan pertama, investor memilih untuk menabung, nanti pada bulan-bulan berikutnya investor bisa memilih reksadana, di bulan-bulan berikutnya lagi investor bisa memilih saham, dst.
  • Sebaiknya investasi tidak hanya sektor keuangan namun juga sektor riil. Tujuannya tidak hanya untuk mendapatkan keuntungan yang tinggi namun juga untuk melatih kreatifitas. Toh, investasi sektor riil yang dilakukan adalah investasi yang disesuaikan dengan kemanpuan. Tidak mungkin bukan secara logika anak berusaia 20 tahun membeli rumah? kecuali mendapat hadiah dari orang tua atau bekerja dengan penghasilan besar? Investasi dalam sektor riil yang bisa dilakukan oleh investor yang masih berusia 20 tahun adalah investasi yang bersifat kreativitas, misalnya dengan membuka les-lesan atau jasa penulisan dan penerjemahan. Dengan begitu, investor tak hanya mendapatkan untung dengan bisa berinvestasi secara riil namun investor juga dilatih untuk kreatif sejak belia.

Jadi, mau berinvestasi apa?

 

Referensi:

Ariefiansyah, Miyosi. “Sim Salabim Jago Investasi”. 2011. Jakarta: Laskar Aksara.

 

The content does not represent the perspective of UC