Kesuksesan berawal dari sesuatu yang sangat sederhana.

 

Ada yang mengatakan bahwa perbedaan antara orang yang gagal dan sukses hanyalah dari sesuatu yang bersifat sangat sepele, yaitu tentang kesederhanaan. Kesuksesan dan kegagalan tak serta merta berhubungan dengan uang. Coba simak contoh berikut.

 

Contoh pertama

Seorang manajer yang memimpin sebuah perusahaan terlibat skandal yang tidak patut untuk dilakukan dengan sekretarisnya. Manajer itu kemudian menggelapkan uang perusahaan demi sekretaris tersebut. Alhasil, karier yang telah dibangun selama bertahun-tahun hancur begitu saja tanpa makna.

 

Contoh kedua

Seorang manajer dari perusahaan menengah bersikap biasa-biasa saja sekalipun ia berada dalam posisi yang lumayan.Ia tidak merasa bahwa dengan posisinya yang sekarang ia raih tersebut dia bisa berbuat seenaknya. Dia malah fokus untuk melakukan perbaikan terus menerus sekalipun bisnisnya dibilang sudah cukup berhasil. Alhasil, karier yang ia miliki pun semakin melambung.

Dua contoh di atas adalah contoh sangat sederhana tentang konsep manajer gagal yang tidak bisa menjaga amanah dengan manajer sukses yang bisa menjaga amanah. Terlihat sekali bedanya bukan bahwa keduanya sama-sama memiliki jabatan dan kekayaan. Yang membedakan hanyalah perilaku mereka semata.

 

Mana yang akan kita pilih?

 

Banyak orang yang tidak pandai dalam mempertahankan. Memang, ada pepatah yang mengatakan bahwa mempertahankan sesungguhnya jauh lebih rumit daripada meraih. Bila meraih dibutuhkan kerja keras dan usaha. Namun saat mempertahankan kerja keras saja tak cukup, dibutuhkan kejelian dan ketelitian dalam menangkap sebuah peluang agar tidak mengjadi boomerang pada diri sendiri.

 

Bila kita melihat dan membaca kisah-kisah sukses yang dimiliki oleh manajer sukses yang hingga kini tetap melejit, maka kita akan menjumpai cirri-ciri mereka sebagai berikut:

 

1. Tetap bersahaja

Banyak orang yang akan langsung berubah ketika dirinya sudah mulai terangkat dari segi tingkat ekonomi. Dari yang awal mulanya mungkin bergaya hidup biasa saja, namun setelah menjadi seseorang bersikap lain. Namun, coba kita lihat bagaimana sikap dari para manajer yang telah sukses tersebut. Ternyata mereka tetap bersahaja meskipun fasilitas sudah bisa mereka nikmati semaksimal mungkin.

 

Suatu ketika, teman saya yang bekerja di salah satu bimbingan belajar pergi ke rumah kepala cabang yang sekaligus pendiri dan pemilik bimbingan belajar yang mulai naik daun tersebut. Teman saya tersebut disambut oleh seorang laki-laki dengan penampilan sangat sederhana dan bersandal jepit, lalu laki-laki tersebut sedang mencuci mobil di garasi rumah kepala cabang tersebut.

Teman saya sempat berpikir “Ehm… mungkin ini pelayannya, mana mungkin sih kepala cabang mau bersih-bersih mobilnya sendiri, bukannya dia sudah memiliki banyak uang?”. Ya, kira-kira seperti itulah yang ada dalam benak teman saya tersebut. Teman saya memang belum pernah bertemu langsung dengan kepala cabang yang sekaligus pendiri dari bimbingan belajar tersebut. Jadi dia memang tidak memiliki gambaran akan wajah dari pak kepala cabang.

 

Namun, siapa yang menyangka, bahwa ternyata laki-laki sederhana bersandal jepit dan sedang mencuci mobil tersebut adalah pendiri dan kepala cabang dari bimbingan belajar tersebut. Jelas saja teman saya kaget. Tak disangka, seseorang yang sudah kaya mau mencuci mobil?

 

Apakah peristiwa tersebut membuat teman saya jadi tidak menghargai kepala cabang tersebut? Tentu saja tidak. Malah sebaliknya. Teman saya sangat terharu dengan kesederhanaan yang ditampilkam oleh kepala cabang tersebut. Dia merasa bahwa sikap seperti itu perlu dicontoh. Bahwa setinggi apapun seseorang terbang, dia harus tetap ingat bahwa ia memiliki kaki yang fungsinya untuk menapak bumi.

 

Kesederhanaan membuat banyak orang bersimpati. Kadang seorang manajer dihormati bukan karena dia kaya atau cerdas, namun karena kesederhanaannya dan sikapnya yang apa adanya. Bisa jadi hartanya berlimpah dan di mana-mana, namun sikapnya tetap sederhana dan tidak menampakkan kemewahan. Yang seperti inilah manajer yang dicari dan dicintai oleh semua karyawan

 

2. Beramal

Saat kita memberi sepuluh, maka kita akan mendapat seratus. Saat kita memberi seratus maka kita akan mendapatkan seribu. Begitu pula saat kita tidak memberi, maka kita tidak akan mendapatkan apa-apa.

 

Seorang manajer, seharusnya adalah seorang yang tidak pelit ilmu. Dia akan senantiasan senang membagikan ilmunya kepada siapa saja dan tidak takut tersaingi. Ketika kita memberi ilmu kepada orang lain, di saat itulah kita mendapatkan ilmu yang baru. Percayalah.

 

Selain beramal dalam bentuk ilmu pengetahuan, manajer juga bisa beramal dalam bentuk kegiatan sosial. Bukankah akan sangat banyak sekali dibutuhkan mereka-mereka yang peduli dengan lingkungan sekitar. Semakin banyakmemberi makan akan semakin banyak menerima. Termasuk juga manajer, ketika ia semakin banyak memberi, entah itu berupa materi atau non materi, maka saat itu pula ia akan mendapatkan sesuatu yang lebih baik daripada yang ia beri

 

3. Berkontribusi terhadap lingkungan

Lingkungan tempat tinggal memiliki pengaruh yang kuat terhadap perkembangan perusahaan. Bahkan perusahaan baru bisa berdiri ketika dia memiliki izin dari orang-orang yang ada di sekitarnya. Untuk itulah, sebagai manajer memang sudah seharusnya ada timbale baik kepada mereka atau lingkungan tempat perusahaan tersebut beroperasi.

 

4. Perhatian dengan karyawan

Perhatian dengan karyawan bisa dilakukan dengan beragam bentuk. Seorangm manajer yang perhatian lebih disenangi daripada seorang manjaer yang tidak memiliki perhatian sama sekali dengan karyawannya. Perhatian manajer terhadap karyawan adalah penyemangat bagi karyawan tersebut.

 

            Intinya, seorang manajer yang sukses memang harus bisa membawakan atmosfer yang positif kepada karyawan yang ada di sekitarnya. Sebaliknya dengan manajer negative. Untuk menjadi manajer yang sukses diperlukan adanya pengabdian yang tiada henti dan perbaikan terus menerus. Siapapun sebenarnya bisa menjadi manajer. Kita sendiri melihat bahwa manajer tak harus berasal dari latar belakang yang menarik. Bahkan yang pada awalnya memiliki latar belakang yang tidak menarikpun bisa jadi manajer. Asalkan bersungguh-sungguh.

 

Referensi:

Ariefiansyah, Miyosi dan Ryan Ariefiansyah. “Strategi Gila Menjadi Manajer No. 1”. 2011. Jakarta: Laskar Aksara.

 

The content does not represent the perspective of UC