Do you know how is to be strong? Knowing your own weakness. (Sakuragi Sensei- Dragon Zakura JDrama)

 

Salah satu hal yang membuat kita galau saat SMA adalah mengenai kehidupan berikutnya, apalagi kalau bukan kuliah.

 

Dulu kuliah menjadi pilihan kedua, namun saat ini kuliah selepas SMA sudah menjadi semacam kewajiban tidak tertulis. Orangtua, terlebih yang tinggal di kota-kota pendidikan seolah mendorong dan “memaksa” anaknya untuk kuliah selepas SMA sehingga kuliah tak lagi menjadi kebutuhan siswa, namun juga orangtua.

 

Bila saat ini kalian masih seorang pelajar SMA, maka tidak ada salahnya untuk mulai memikirkan tahap kehidupan selanjutnya sedari sekarang. Jika pada akhirnya memilih kuliah sebagai jalan hidup selanjutnya, tentunya hal tersebut bukan karena ikut-ikutan teman atau kewajiban semata. Semuanya harus dipikirkan dengan baik.

 

Ingat, kalian akan menghabiskan waktu sekitar empat tahun untuk menimba ilmu di jenjang yang lebih tinggi. Bila yang hanya tiga tahun saja kalian sering mengalami kebosanan, apalagi yang lebih dari itu. Jangan sampai setelah kuliah dan menghabiskan begitu banyak biaya, ternyata kalian memutuskan untuk berhenti di tengah jalan hanya karena alasan yang tidak penting.

 

Hal-hal apa saja yang harus kalian pikirkan sebelum mengambil keputusan untuk kuliah? Mari simak penjelasan berikut ini.

 

Mengapa Kuliah?

 

“Sebenarnya sih aku ingin ambil jurusan akuntansi, cuma teman-teman sekelas pada ambil kedokteran. Huft… jadi malu kalau mo ambil yang beda!”

“Kalau bukan karena orangtua, aku males kuliah!”

“Jujur, aku kuliah cuma buat cari gelar. Jadi, jurusan apa aja ya terserah, yang penting cepet dapet gelarnya!”

 

Beberapa ilustrasi di atas mungkin tidak mewakili kondisi yang ada di lapangan. Namun, setidaknya kalian bisa mendapatkan sedikit gambaran akan kegalauan siswa SMA mendekati pergantian status. Ternyata, bukan hanya kalian saja yang bingung. Pertimbangkan beberapa hal di bawah ini agar kalian tidak salah pilih.

 

SATU: Jangan asal kuliah

 

“Ya udahlah, yang penting nyenengin orangtua!”

 

Ingat, jangan asal kuliah! Hal ini sangat penting karena kalian bukan remaja lagi. Sudah saatnya mengetahui mengapa kalian melakukan hal tersebut dan mengapa tidak. Sudah bukan waktunya juga kalian hanya ikut-ikutan tren atau mengikuti pilihan orang lain. Ini masa depan kalian, bukan masa depan mereka.

 

Benarlah kata pepatah: masa depan ada di tangan kita sendiri dan bukan di tangan siapa-siapa, termasuk orangtua. Mereka “hanya” bisa memberi masukan, tapi keputusan akhirnya tetap berada di tangan kalian.

 

DUA: Kuliah bukan untuk meraih kekayaan dalam waktu singkat

 

Masih banyak masyarakat yang beropini bahwa kuliah bisa menjadikan kita kaya raya. Jadi, tujuan kuliahnya hanya untuk menjadi kaya, bukan untuk mencari ilmu. Akibatnya, ketika terjadi anomali antara dunia nyata dengan dunia kampus, akan muncul rasa minder, rendah diri, bahkan tinggi hati. Misalnya, si A memiliki kehidupan yang sederhana, sementara si B kaya raya. Padahal dulunya, keduanya sama-sama mahasiswa cerdas dan bisa diandalkan. Opini masyarakat secara umum: A dianggap gagal karena kecerdasannya tidak sebanding dengan hasil yang didapatnya ketika lulus kuliah, B dianggap sukses karena memiliki kehidupan yang mapan dengan uang berlimpah.

 

Padahal, ukuran kesuksesan tidak hanya seberapa banyak materi yang didapat, namun seberapa besar kontribusi yang bisa kalian berikan pada lingkungan sekitar. Jika ukuran kesuksesan hanya seberapa banyak materi yang didapat, maka semua orang bisa melakukannya tanpa perlu kuliah. Banyak (mantan) mahasiswa yang mungkin terjebak dengan paradigma ini. Setelah lulus dan bekerja, mereka melakukan beragam cara hanya untuk terlihat “wah” tanpa memedulikan apakah yang dilakukannya bermanfaat atau tidak.

 

TIGA: Kuliah bukan untuk mencari gelar

 

“Ya udahlah, mau kuliah di mana aja yang penting kuliah dan dapat gelar!”

 

Pernyataan di atas sama halnya dengan pernyataan, “Ya sudahlah, yang penting hidup, terserah mau seperti apa!” Kenyataannya, banyak mahasiswa yang tidak terlalu peduli dengan proses kuliah. Mereka lebih peduli dengan gelar yang akan diraih. Banyak yang berasumsi bahwa dengan adanya gelar, setiap mahasiswa bisa menggapai apa yang diimpikan. Dengan adanya gelar, mereka merasa menjadi lebih baik daripada yang tidak memiliki gelar. Sebenarnya, pendapat itu tidaklah benar.

 

Banyak mahasiswa yang setelah lulus tidak mengerti dengan apa yang dipelajarinya ketika kuliah. Sesaat setelah wisuda, ilmu yang mereka dapatkan seolah menguap begitu saja. Bila saat ini kalian berencana untuk kuliah, pastikan niat itu tidak hanya sekadar untuk mencari gelar. Sebutan “sarjana” hanyalah dampak dari ketekunan dan pengorbanan yang kita lakukan selama kurang lebih empat tahun. Pastikan dalam diri bahwa kalian akan menikmati proses mendapatkan ilmunya.

 

Terlalu “gelap mata” dengan gelar sama saja menabur sifat sombong ke dalam diri. Akibatnya, kalian tidak akan mengerti makna dan esensi dari proses kuliah, melainkan hanya sibuk memikirkan gelar semata. Kalian juga tidak akan terlalu menghargai orang lain yang tingkat pendidikannya berada di bawah kalian. Logikanya, kalian akan menjadi lebih bijak jika menikmati benar-benar proses kuliah karena kalian tidak hanya menguasai materi kuliah, tapi juga mendewasakan sikap dan pikiran.

 

EMPAT: Kuliah bukan untuk prestise

 

“Kalau gue ngggak kuliah kan malu. Masa yang kondisi ekonominya lebih parah daripada gue aja kuliah. Lah gue?"

“Aku nggak mau malu-maluin orangtua, makanya kuliah. Sebenarnya sih males banget mau kuliah. Tapi mau gimana lagi!”

 

Salah satu hal yang belum bisa ditinggalkan oleh banyak orang, mungkin salah satunya kalian, adalah melakukan sesuatu karena gengsi atau prestise semata tanpa mengerti maknanya, termasuk dalam bidang pendidikan. Padahal, melakukan sesuatu hanya karena prestise tidak akan membuat diri sendiri menjadi lebih baik. Bayangkan saja bila yang kalian lakukan hanya berdasarkan omongan orang lain.

 

Coba tanyakan pada diri kalian, mengapa kalian melakukan sesuatu? Mengapa kalian sekolah dan kuliah? Mengapa kalian seperti ini dan itu? Bila kalian mengetahui jawabannya, maka bersyukurlah karena itu artinya apa yang kalian lakukan memiliki dasar yang cukup kuat. Sebaliknya, jika kalian bingung menjawabnya, itu artinya kalian belum mengerti mengapa memilihnya. Bisa saja karena gengsi dan takut dianggap tidak layak oleh orang lain.

 

Masalah kuliah atau tidak adalah langkah pertama yang mungkin membuat kalian bingung sebagai orang dewasa. Selanjutnya, akan banyak langkah yang membutuhkan kedewasaan kalian dalam berpikir. Misalnya, harus ke kanan atau ke kiri, memilih melangkah atau berdiam. Semuanya itu membutuhkan latihan. Jika tidak memulainya dari sekarang, saat memasuki usia dewasa, kapan lagi?

 

LIMA: Kuliah bukan karena tidak tahu akan ke mana

 

“Ya udahlah ya, daripada nggak tahu mau ke mana, mending kuliah!”

 

Bagaimana bila kita mendengar kalimat di atas. Ya, tidak salah bila kita menjawab bahwa kalimat di atas adalah gambaran seseorang yang putus asa. Karena tidak mengetahui langkah hidup selanjutnya, akhirnya kita memilih sesuatu yang sudah banyak dilakukan orang, salah satunya adalah kuliah. Padahal, kita sendiri sebenarnya tak terlalu mengerti kenapa memilih hal tersebut.

 

Hidup tidak seperti air mengalir karena kalian dikaruniai akal dan pikiran untuk melangkah dan mengambil keputusan. Bukan untuk melemahkan, tetapi tidak ada salahnya jika kalian bertanya kembali tentang niat untuk kuliah dan mengapa harus kuliah. Tentu saja jawaban kuliah karena tidak tahu harus ke mana bukanlah jawaban bijak sebagai orang dewasa.

 

Referensi:

Ariefiansyah, Miyosi dan Ernawati Neng Lisojung. "Kuliah vs Kuli-ah". 2015. Jakarta: Bhuana Ilmu Populer.

The content does not represent the perspective of UC