Referensi pihak ketiga: dailystar.co.uk

Perang seringkali dianggap sebagai upaya penyelesaian masalah. Akan tetapi, pada kenyataannya banyak muncul masalah lain yang tak mudah diselesaikan. Soal gugurnya prajurit, belum lagi soal cacat dan juga pelecehan seksual. Hal itu adalah segudang masalah yang memberatkan beban negara, khususnya Amerika Serikat.

Referensi pihak ketiga: dw.com

Data terbaru, ternyata banyak kasus hamil tak diinginkan dari para prajurit wanita AS saat bertugas. Dari seluruh prajurit wanita yang ditugaskan ke medan perang, sekitar 7% nya mengalami kehamilan. Berdasarkan riset, terdapat 78 dari 1.000 tentara wanita hamil, 54% diantaranya tidak diinginkan.

Referensi pihak ketiga: mimbar-rakyat.com

Biasanya para prajurit wanita yang mengalami kehamilan tak diinginkan, menginginkan aborsi. Akan tetapi, Departemen Pertahanan AS belum mampu menyediakan layanan konsultasi untuk aborsi. Sosialisasi soal kontrasepsi ternyata juga tidak berdampak signifikan. Dikutip dari Medpage Today, 6 September 2018, medpagetoday.com/publichealthpolicy/militarymedicine/74959.

Referensi pihak ketiga: samaa.tv

Aneh juga sebenarnya, biasanya prajurit wanita yang bertugas di medan perang, mereka tidak bersama dengan pasangannya. Tapi kok bisa hamil ya? Tekanan psikologis prajurit saat bertugas memang tinggi. Maka bagi mereka yang tidak bisa mengendalikan nafsunya ya akhirnya marak pelecehan seksual.

Referensi pihak ketiga: dailymail.co.uk

Kira-kira apa ya solusinya?

Mari Dukung Prajurit TNI agar bisa menjalankan tugas dengan baik.

The content does not represent the perspective of UC