"Di rumah aja, bisa apa selain mandangin langit-langit?"

Duluuu, pendapat seperti ini mungkin ada benarnyaa karena kenyataannya seseorang harus ke luar rumah untuk bisa berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain, pun untuk menghasilkan pundi-pundi.

 

"Di rumah aja, emang enggak bosen secaraaa enggak ngapa-ngapain?"

Duluuu, pendapat seperti ini mungkin juga ada benarnyaa. Walaupun, ada beberapa wanita yang enggak mati gaya meskipun di rumah saja karena mereka memiliki keterampilan seperti menjahit, membuat kue, dan semacamnya. Yang tentu sajaa hal tersebut tidak berlaku untuk wanita yang tidak bisa/tidak tertarik dengan dunia semacam itu.

 

Iyaa, duluuu.

Sekarang?

 

Saya rasa, pendapat-pendapat semacam itu sudah tidak valid lagi. Zaman sudah berubah. Informasi datang dan pergi begitu cepat. Ada begitu banyak hal yang dulu seolah-olah tidak mungkin untuk bisa dilakukan sekarang bisa dengan mudah dilakukan. Sekolah online, kuliah online, les privat online, jual/beli online, termasuk ... bekerja selayaknya orang kantoran secara online adalah beberapa contoh di antaranya. 

 

Remote working, co-working space, virtual office, siapa sih yang enggak ngeh dengan istilah-istilah tersebut di zaman sekarang ini?

 

Bekerja secara online sendiri tidak hanya menjadi milik wanita yang sudah menikah -yang notabene ingin mengamalkan ilmu yang dimiliki- saja, tapi juga laki-laki. Ada begitu banyak bapak-bapak di zaman sekarang yang memilih bekerja secara remote dengan alasan efektivitas: males "nongkrong" kelamaan di jalan kalau harus ngantor setiap hari. Jadii, sah-sah aja ya kalau ada ibu-ibu/calon ibu/wanita yang ingin di rumah (saja) dengan alasan serupaa/hampir serupa.

 

Sebenarnya, memang, kalau kita mau positif, di dalam dan luar rumah itu sama saja. Toh, sudah ada internet.

 

Lalu, apa saja yang bisa kita lakukan agar di rumah pun bisa produktif?

 

Pertama, ubahlah mindset yang sebelumnya mungkin hanya fokus pada hal-hal yang tidak bisa kita lakukan menjadi hal-hal yang bisa kita lakukan di rumah. Pasti ada. Pastii. Dan, setiap individu bisa saja berbeda.

 

Kedua, bersyukur tiada henti. Kita tidak sedang berada di daerah konflik yang setiap saat mendengar suara tembakan. Alhamdulillah, kita masih berada di tempat yang damai. Kita juga tidak sedang kekurangan sandang pangan dan papan, sebab sesederhana apapun hidup kita, toh masih bisa makan, setidaknya tak seperti di luar sana di daerah konflik yang mungkin sebulan tak makan. Dengan memperbanyak rasa syukur, InsyaaAllah hati kita akan lebih tenang dan tenteram. Imbasnya, kita bisa berpikir jernih dan kreatif.

 

Ketiga, galilah potensi yang ada. Semua manusia memiliki kelebihan. Pasti. Allah sudah menciptakan manusia satu paket: kekurangan dan kelebihan. Memasak, membuat kue, mendesain baju, menjahit, dan beragam ketrampilan sejenis, adalah beberapa contoh di antaranya. Terlebih, Indonesia sedang menggalakkan industri kreatif rumahan, bukan. Maka, inilah saatnya kita yang memang memiliki passion di bidang tersebut “unjuk gigi”.

 

Keempat, bergabung di komunitas/organisasi/perkumpulan yang positif dan membangun.

 

Kelima, jalan-jalan "tidak biasa", misalnya ke panti asuhan, ke rumah sakit, ke panti jompo, atau ke perkampungan kumuh. Dari sana, kita mungkin akan sadar atau semakin sadar bahwa tidak pantas jika kita mengeluh hanya karena sesuatu yang sifatnya tidak primer. Sedangkan di luar sana, masih banyak orang-orang yang bahkan untuk sekadar untuk menyambung hidup saja susah.

 

Keempat bekerja selayaknya orang kantoran secara online seperti yang sudah disebutkan di atas. Hal ini mungkin berlaku untuk kita yang sama sekali tidak memiliki ketertarikan di bidang kuliner atau keterampilan wanita lainnya. Tidak perlu mati gaya, masih banyak cara untuk berkarya. Membuat blog tentang kesehatan, jika kita berlatarbelakang medis misalnya. Di sana, kita bisa berinteraksi dengan pembaca. Atau, membuat kursus online. Dan, apa saja yang sekiranya membuat kita merasa bahagia dan merdeka serta berguna.

 

Rumah bukanlah jeruji besi, rumah adalah “miniatur” surga yang di dalamnya kita bisa melakukan apa saja, termasuk … berkarya, bekerja, dan menjadi pribadi yang produktif.

               

The content does not represent the perspective of UC