Satu lagi  “godaan”, terutama bagi yang tinggal di kota besar, apalagi kalau bukan kartu ajaib bernama kartu kredit. Alat pembayaran tersebut dianggap sebagai alat yang wajib dimiliki oleh sebagian besar penduduk kota. Mereka menganggap orang yang memiliki kartu kredit akan memiliki nilai yang “lebih” daripada yang tidak. Padahal bila ditelisik lebih lanjut, kartu kredit tak ubahnya seperti kartu utang. Sifatnya bukan harta, melainkan utang yang harus dibayar di kemudian hari.
 
Sekalipun diberikan berbagai kemudahan dan fasilitas, kita tetap saja dibebani kewajiban untuk melakukan pembayaran di kemudian hari. Mirisnya, banyak yang memilih menggunakan kartu kredit karena faktor prestise dibandingkan manfaatnya.
 
Sebenarnya, kartu kredit memiliki manfaat, salah satunya untuk melakukan transaksi-transaksi penting, misalnya pembayaran tiket pesawat (terlebih bila kita sering ke luar kota atau ke luar negeri dengan menggunakan pesawat terbang), membayar rumah sakit, dan hal-hal darurat lainnya.
Jadi, sepanjang kartu kredit digunakan untuk memudahkan urusan kita (bukan hal konsumtif yang tidak bermanfaat) maka keberadaannya bisa bermanfaat.
 
Namun demikian, hendaknya kita tetap waspada terhadap “jebakan” kartu kredit. Oleh karena kemudahannya untuk melakukan transaksi, kita dapat dengan mudah tergoda menggunakannya untuk belanja hal-hal yang tidak penting. Padahal logikanya, semakin banyak menggesek semakin banyak utang yang harus kita bayar.
 
Beberapa cara yang bisa kita terapkan agar tidak terjebak dengan utang kartu kredit yaitu:
 
1. Menganggap kartu kredit adalah ATM. Yang itu artinya, saat kita menggunakan kartu tersebut, sama artinya dengan menggunakan kartu debit ATM (mengurangi uang yang ada).
 
2. Menggunakan kartu kredit untuk hal-hal darurat.
 
3. Menyimpannya dan hanya membawa ketika diperlukan agar kita tidak tergoda.
 
4. Mengalokasikan pengeluaran rutin untuk kartu kredit, misalnya sebesar Rp 300.000,00 per bulan 
 
5. Berpikir ulang sebelum kita mengajukan pembuatan kartu kredit dengan menganalisis cost and benefit-nya. Jangan memilih menggunakan kartu kredit hanya karena alasan yang tidak rasional seperti gengsi atau takut dianggap miskin.
 
6. Bila kita masih pemula, terlebih penghasilan yang kita miliki juga tidak terlalu besar, sebaiknya kita memilih jenis kartu kredit berjenis silver. 
 
7. Menyimpan bukti pengeluaran setiap kali kita memakai kartu kredit. Pada akhir periode, sebelum kita membayar tagihan kartu kredit, kita harus bisa mengecek terlebih dahulu apakah jumlah tagihan sesuai dengan jumlah pengeluaran yang sebenarnya. Jangan hanya percaya begitu saja pada jumlah tagihan yang ada karena bisa saja keliru. 
 
8. Membayar tagihan kartu kredit tepat waktu agar tidak terkena denda yang nilainya cukup material.
 
9. Bila tagihan kartu kredit sangat besar karena kita mengeluarkannya untuk hal-hal yang tidak biasa, membeli tiket pesawat empat orang Balikpapan - Surabaya pulang pergi dengan total senilai Rp 6.000.000,00 misalnya, maka bagilah pembayaran ke dalam beberapa bulan, misalnya dibagi tiga atau empat. Sehingga per bulannya kita akan dikenai beban sebesar Rp 1.500.000,00 atau Rp 2.000.000,00. Tak terlalu memberatkan bukan, terutama bila kita memiliki gaji di atas itu.
 
10. Jangan terlalu banyak memiliki kartu kredit. Bila satu bisa efektif dan menekan jumlah pengeluaran kita, mengapa harus punya dua.
 
11. Jangan mudah tergiur dengan beragam tawaran dan kemudahan yang diberikan oleh bank yang menerbitkan kartu kredit. Apalagi bila kita sudah memiliki kartu kredit, untuk apa menambahnya lagi.
 
12. Bila kita adalah tipe orang yang mudah tergiur, maka menghindarlah setiap kali ada CS bank yang menawarkan kartu kredit. Tolak secara tegas namun sopan. Semakin kita layani, kita akan semakin tergoda, dan pada akhirnya memilihnya.
 
Bagaimana? Sudah siap memiliki kartu kredit untuk transaksi darurat?
 
 
Referensi:
 
Ariefiansyah, Miyosi. "Cash Flow Management untuk Awam & Pemula". 2012. Jakarta: Laskar Aksara.
 

The content does not represent the perspective of UC