Ketujuh sutradara berikut memiliki obsesi pada seksualitas dan gemar menangkat tema yang tabu dalam film-film mereka.

GASPAR NOE

Film: Irreversible (2002), Enter the Void (2010), Love (2015), Climax (2018)

Referensi pihak ketiga

Noe mengekspresikaan segala rasa karakternya melalui hubungan fisik, di mana tubuh tanpa busana dan penetrasi jadi sesuatu yang rutin hadir. Karya terbarunya, Climax, sukses mendapat respon positif dari penonton dan kritikus saat diputar di Festival Film Cannes awal tahun ini.

RUSS MEYER

Film: Faster, Pussycat! Kill! Kill! (1965), Beyond the Valley of the Dolls (1970), Supervixens (1975)

Referensi pihak ketiga

Mengawali karir sebagai fotografer majalah Playboy membentuk gaya Meyer, menjadikannya "Raja Film Sexploitation". Melakukan semuanya sendiri dari menulis naskah, menyutradarai, sampai menyunting gambar, topik kegemaran Meyer tentu saja seksualitas yang kerap menampilkan sarkasme, dada besar, dan banyak hubungan intim.

LARS VON TRIER

Film: Antichrist (2009), Melancholia (2011), Nymphomaniac (2014)

Referensi pihak ketiga

Seksualitas menurut Lars von Trier adalah rasa sakit dan erat kaitannya dengan depresi. Karakternya adalah manusia-manusia tersiksa yang mencari pelampiasan lewat hubungan intim. Obsesi sang sutradara akan seksualitas berpuncak di Nymphomaniac.

ANDRZEJ ZULAWSKI

Film: The Devil (1972), Possession (1983), On the Silver Globe (1988)

Referensi pihak ketiga

Zulawski memuja tubuh wanita muda nan cantik. Dalam film buatannya, hubungan badan seolah bisa terjadi kapan saja. Tubuh tanpa busana bergerak pelan, secara tak sengaja saling bersentuhan, dan lain-lain. Erangan wanita jadi musik favoritnya.

BERNARDO BERTOLUCCI

Film: The Conformist (1970), Last Tango in Paris (1972), The Last Emperor (1987)

Referensi pihak ketiga

Film Bertolucci cenderung menyentuh ranah erotis yang ditampilkan kulit tanpa busana karakter utama wanitana, yang selalu digambarkan sebagai sosok sensual, penuh hasrat untuk menyiksa pikrian dan tubuh pria. Last Tango in Paris membawanya pada puncak kontroversi karena dianggap sebagai pornografi murni.

NAGISA OSHIMA

Film: In the Realm of the Senses (1976), Empire of Passion (1980), Taboo (2000)

Referensi pihak ketiga

Seksualitas dan kekerasan selalu hadir dalam karya sineas Jepang satu ini, dengan In the Realm of the Senses jadi filmnya yang paling tenar sekaligus kontroversial. Banyak yang mencelanya, banyak pula yang memujanya sebagai simbol emansipasi seksual pada akhir 60an dalam bagian revolusi kultural.

PIER PAOLO PASOLINI

Film: Love Meetings (1965), Arabian Nights (1974), Salo, or the 120 Days of Sodom (1979)

Referensi pihak ketiga

Melalui sensualitas, Pasolini dapat mendefinisikan hubungan sosial. Karyanya yang paling dikenal tentu saja Salo, tapi dokumenter Love Meetings buatannya tak kalah menarik, di mana sang sutradara berkeliling di jalanan sambil membawa microphone lalu bertanya pada segala jenis pejalan kaki mengenai berbagai topik mulai dari keperawanan, prostitusi, homoseksual, dan lain-lain.

The content does not represent the perspective of UC