Satu hal yang wajib dilakukan apabila ingin belajar membuat film tentu menonton film sebanyak-banyaknya, dan karya dari 7 sutradara besar ini akan membuatmu mempelajari definisi film berkualitas.

Martin Scorsese

Referensi pihak ketiga

Legenda hidup perfilman Amerika, bahkan dunia. Telah berkarir selama 51 tahun dan membuat 24 film (film ke-25 Scorsese, The Irishman, rilis tahun depan), karya sang sutradara kerap mengangkat konsep rasa bersalah dan penebusannya, sistem yang korup, kriminalitas, dan konflik antar-gang. Taxi Driver (1976), Mean Streets (1973), dan Raging Bull (1980) adalah beberapa karyanya yang wajib disimak.

Yasujiro Ozu

Referensi pihak ketiga

Dikenal lewat judul-judul seperti Tokyo Story (1953), Late Autumn (1973), dan Late Spring (1949), Ozu telah menginspirasi banyak sineas melalui kesederhanaannya. Tema yang diusung hingga teknik yang ia aplikasikan cenderung sederhana, tapi sensitivitas serta sudut pandangnya dalam memaknai hidup menjadikan karyanya indah nan spesial.

Andrei Tarkovsky

Referensi pihak ketiga

Sineas terbesar dan paling legendaris dalam sejarah perfilman Rusia ini sayangnya hanya sempat membuat 7 film narasi dan 1 dokumenter sepanjang karirnya. Namun karya-karya seperti The Mirror (1975), Solaris (1976), dan Stalker (1979) telah cukup membuatnya dikenang lewat film-film puitis yang indah meski bertempo lambat dan berdurasi panjang.

Alfred Hitchcock

Referensi pihak ketiga

Dari karya-karya Hitchcock seperti Psycho (1960), Rear Window (1954), dan North by Northwest (1959), kita bisa mempelajari bagaimana cara membanun ketegangan dari sang "Master of Suspense". Sudut penempatan kamera, permainan tempo, hinga pengaturan tone yang tak ragu melompat drastis dari komedi ringan ke misteri kelam jadi beberapa caranya.

Jean-Luc Godard

Referensi pihak ketiga

Mengawali karir sebagai kritikus, Godard adalah sosok yang berani melakukan eksperimen, menghancurkan tatanan yang dianggap sebagai pondasi dan kewajiban di eranya, berkarya semaunya yang justru menciptakan formula baru alih-alih mengikuti gaya populer. Breathless (1961), Band of Outsiders (1964), juga Contempt (1964) bisa disaksikan untuk mengamati keberaniannya.

Akira Kurosawa

Referensi pihak ketiga

Ketika banyak sutradara legendaris cenderung berkarya di ranah art house yang kurang bersahabat bagi penonton awam, Kurosawa, layaknya Scorsese yang mengidolakannya, mampu menggabugkan elemen film art dengan hiburan semua kalangan tanpa perlu kehilangan kekuatan naratif. Rashomon (1951), Seven Samurai (1956), dan Throne of Blood (1958) jelas wajib tonton.

Stanley Kubrick

Referensi pihak ketiga

Seorang jenius sekaligus sutradara terbaik sepanjang masa. Kehebatan Kubrick adalah ia mampu bertransformasi, menerapkan gaya berbeda tergantung kebutuhan filmnya. Sebagai sosok perfeksionis, tidak jarang Kubrick mengambil ratusan take dalam pengambilan gambar bahkan menyiksa para pemainnya. Tapi hasilnya luar biasa, di mana judul-judul macam 2001: A Space Odyssey (1968), The Shining (1980), Dr. Strangelove (1964), sampai Barry Lyndon (1975), kerap muncul di jajaran film terbaik.

The content does not represent the perspective of UC