Referensi pihak ketiga

Keinginan publik untuk Edy Rahmayadi mundur dari jabatannya sebagai Ketum PSSI semakin besar pasca dipastikannya Timnas Indonesia tersingkir dari Piala AFF 2018. Timnas Indonesia tak mampu melaju dari grup A Piala AFF 2018 setelah Filipina pada Rabu 21 November 2018 mampu menahan imbang Thailand dengan skor 1-1.

Tagar Edy Out pun menjadi trending topic di Twitter. Mari berandai-andai, jika memang pada akhirnya Edy Rahmayadi meletakkan jabatannya sebagai Ketum PSSI, siapa kira-kira kandidat yang tepat untuk menggantikannya? Berikut 3 tokoh yang bisa jadi Ketum PSSI menggantikan Edy Rahmayadi:

1. Erick Thohir

Referensi pihak ketiga

Sosok satu ini memang banyak digadang-gadang sebagai orang yang paling tepat untuk bisa menjadi Ketum PSSI menggantikan Edy Rahmayadi. Sepak terjang Thohir di dunia sepakbola sudah tak perlu diragukan lagi, levelnya bukan lagi nasional namun internasional. Inter Milan dan DC United ialah bukti nyata kepemimpinan Thohir di dunia sepakbola.

Namun sayangnya Thohir sendiri sudah mengatakan bahwa dirinya enggan untuk jadi Ketum PSSI. “Saya memang tertantang untuk membantu persepakbolaan Indonesia. Namun, tidak sebagai Ketua Umum PSSI. Saya ini bukan tipe orang yg cocok di birokrasi. Jadi kalau untuk posisi Ketua Umum PSSI, tidak ingin. Tapi jika ditantang memperbaiki sepak bola Indonesia dalam pengelolaan liga itu menarik buat saya,” kata Thohir seperti dikutip dari tempo.co (22/11/18).

2. Maruarar Sirait

Referensi pihak ketiga


Selanjutnya ada tokoh dari partai politik yakni Maruarar Sirait. Meski berasal dari dunia politik, namun sepak terjang Maruarar di dunia sepakbola setidaknya lebih baik dari Edy Rahmayadi. Ia adalah ketua Steering Commintee (SC) ajang Piala Presiden 2018.

Di dalam menjalankan Piala Presiden 2018, Maruarar berusah untuk menjunjung tinggi dua hal yang selama ini hilang dari roh sepakbola Indonesia yakni profesionalistas dan fair play.

"Dari diskusi pada 2015, kami sepakati bahwa turnamen ini harus diaudit dan tidak menggunakan uang negara, baik itu APBN, APBN, BUMN, dan BUMD. Kedua, soal fair play. Tidak ada pengaturan skor dan tidak ada wasit yang dibeli. Itu dua roh Piala Presiden. Itu yang membangun kepercayaan industri dan arah menuju sepak bola modern." kata Maruarar seperti dikutip dari bolasport.com (22/11/18).

3. Emha Ainun Nadjib

Referensi pihak ketiga

Nama terakhir mungkin terbilang cukup mengundang pro kontra yakni Emha Ainun Nadjib. Ia adalah budayawan yang peduli pada sepakbola Indonesia. Di tengah kondisi sepakbola Indonesia yang tengah terpuruk seperti ini sosok Emha dirasa tepat untuk memimpin PSSI.

Di sejumlah kesempatan Emha selalu memberikan petuah yang berisi masukan positif untuk membangun sepakbola Indonesia. "Sepakbola untuk bersyukur, untuk persaudaraan. Untuk menciptakan ghiroh, untuk saling tolong menolong, untuk segala macam" kata pria yang akrab disapa Cak Nun tersebut.

Selama mondok di Pesantren Gontor, Cak Nun sudah akrab dengan sepakbola. Di awal 90-an, Cak Nun sangat produktif menulis kolom-kolom Sepakbola. Kumpulan tulisan-tulisan Cak Nun saat itu kemudian dibukukan dalam “Bola-bola Kultural”. Pelatih Timnas U-19, Indra Sjafri pun dikenal suka mendapat banyak masukan dari seorang Cak Nun.

Referensi pihak ketiga


The content does not represent the perspective of UC