liputan6.com (sejumlah mahasiswa Papua menggelar aksi demo di depan Istana Merdeka menuntut referendum)

Mahasiswa Papua, Ambrosious meminta pemerintah melakukan referendum dan memisahkan diri dari NKRI. Ambrosious mengatakan dirinya dan kawan-kawannya sudah tak nyaman tinggal di Pulau Jawa karena sering mendapatkan kata-kata rasis.

“Kami minta referendum, dan kami akan pulang ke Papua. Kami tidak nyaman tinggal di Jawa, karena harus menerima kata-kata rasis,” kata Ambrosius, seperti yang dilansir di suara.com (30/08/19).

Pihak Istana bersuara

kompas.com (Ali Mochtar Ngabalin)

Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Kantor Staf Presiden, Ali Mochtar Ngabalin menolak permintaan mahasiswa Papua terkait referendum dan memisahkan diri dari NKRI. Dia menegaskan Papua adalah bagian dari wilayah resmi Indonesia.

“Negara ini negara berdaulat. Indonesia adalah Papua. Papua adalah Indonesia,” kata Ngabalin, seperti yang dilansir di suara.com (30/08/19).

liputan6.com (sejumlah mahasiswa Papua menggelar aksi demo di depan Istana Merdeka menuntut referendum)

Ngabalin kemudian merasa heran dengan sikap mahasiswa Papua yang menyerukan tuntutan referendum. Padahal, kata dia, akar permasalahan semua ini adalah tindakan rasisme, bukan separatisme.

“Dari isu rasis ke isu separatis. Itu tidak nyambung, langit dan bumi bedanya,” tegas Ngabalin, seperti yang dilansir di suara.com (30/08/19).

Bagaimana pendapat Anda? Semoga artikel ini bermanfaat untuk Anda.

The content does not represent the perspective of UC