Bagaimana rasanya punya hutang? Tentulah tak menyenangkan.

Dunia seolah sempit, hati tak tenang, dan was-was entah kapan akan ditagih. Demikanlah zina, ia akan membelit pelakunya dalam belitan hutang yang kapan saja siap menagih.

Sebagaimana dikutip dari Kitab Imannul Taqwa, Imam Syafi'i berkata "Sesungguhnya zina adalah hutang. Dan sungguh hutang tetaplah hutang. Salah seorang dalam nasab/keturunan pelakunya pasti harus membayarnya."

Perkataan beliau terbukti benar, dengan kisah seorang pemuda pezina yang belum bertaubat. Kisahnya telah dimuat dalam koran-koran berbahasa Arab, agar diambil sebagai pelajaran.

Zina Adalah Hutang (sumber gambar: kaskus.co.id/thread/57a2b87c9e7404803d8b456d/zina-itu-hutang-gan/)

Terdapat seorang pemuda yang telah menzinai seorang gadis hingga hamil, kemudian ia lari dari tanggung jawabnya. Kepada saudara gadis yang dizinainya, ia berkata “Aku tidak mengenal gadis ini, carilah orang lain yang menghamilinya.” 

Karena ketiadaan bukti, maka ia pun bebas pergi dan melupakan dosanya tersebut. Hingga suatu hari ketika pulang ke rumah ia menemui ibunya yang menjerit-jerit dan jatuh pingsan berkali-kali. Ternyata ibunya terlalu kaget menemui kenyataan bahwa saudari pemuda itu telah hamil oleh tetangganya sendiri.

Dalam keadaan marah ia mendatangi tetangganya, dan ia sungguh terkejut mendapati perkataan tetangganya tersebut “Aku tidak mengenal adikmu, carilah orang lain yang menghamilinya.” 

Subhanallah, hal yang sama seperti yang ia ucapkan kepada keluarga gadis yang dihamilinya di waktu lalu. Ia menyadari betapa balasan tergantung amalan perbuatan.

Dan begitulah, ia mengalami depresi yang berat setelahnya. Kemudian setelah bertahun-tahun terlewati, ia memutuskan untuk menikah. Pada hari pesta pernikahan ia kembali mendapatkan kejutan, bahwasanya calon pengantinnya pernah melakukan zina sebelumnya. Calon pengantinnya berkata: “tutupi keburukanku semoga Allah juga menutupi keburukanmu.”

Dalam penyesalan ia berkata “sudah ya Rabbi. cukup, cukup, cukup, aku sudah menjalani hukumanku.”

Selang beberapa masa, ia pun memiliki anak. Kemudian ketika anaknya telah berusia 6 tahun, anaknya datang dari luar dengan menangis. Apa yang terjadi? penjaga rumah telah mempemperkosanya, laa haula wa laa quwwata illa billah.

---------

Demikianlah zina, awalnya kekhawatiran, perjalanannya penuh dosa, dan ujungnya penyesalan. Maka jauhilah zina, dan jika telah terjatuh ke dalamnya, maka segeralah bertaubat nasuha. Jika tidak, maka sesungguhnya zina adalah hutang, berani berzina bersiaplah membayarnya.

Sungguh benar, balasan tergantung dari amal perbuatannya. Dan untuk orang-orang tidak bersalah yang menjadi korban dalam kejadian tersebut, maka itu akan menjadi cobaan bagi mereka, yang insyaallah dengannya Allah akan angkat derajatnya dan menghapuskan dosa-dosanya.

Jangan dekati Zina! (sumber gambar : diana-rosmawati.blogspot.co.id/2014/02/zina-adalah-hutang.html#.Wrs2iS5ubIU)
Doa agar Anak terhindar dari Zina (Sumber gambar:http://tolibilmi.blogspot.co.id/2015/11/hukum-mengahwini-perempuan-gadis.html)

Sumber Referensi:

  1. Akhwatmuslimah.com/2015/03/15/2114/sebuah-kisah-nyata-ia-melakukan-zina-dan-belum-bertaubat/
  2. Almanhaj.or.id/2555-zina-merajalela.html
  3. kisahmuslim.com/3430-kisah-hikmah-jangan-dekati-zina-zina-adalah-hutang.html

The content does not represent the perspective of UC