Dalam situasi apa pun, Tuhan itu maha baik, percayalah! Ijinkan daku berbagi pengalamanku tentang hal itu, berdasarkan peristiwa sederhana pagi hingga menjelang siang di hari Minggu ini (Minggu, 10/12/2017). Bangun tidur, saya berdoa pagi sejenak. Sesudah itu saya berangkat ke Gereja Katedral Semarang untuk mengikuti Perayaan Ekaristi. Bukan karena tugas, melainkan karena kebutuhanku menimba sumber dan puncak hidup berimanku dalam Perayaan Ekaristi. Maka, aku mengikuti Perayaan Ekaristi dengan duduk di bangku sakristi.

Sementara sedang berdoa bersiapan, Romo Yudho yang akan memimpin Perayaan Ekaristi menyalamiku, dan berkata, "Romo mimpin Misa ya?" Saya menjawab, "Tidak Romo, saya mau ikut Misa sebagai umat di sini." Begitulah, saya menikmati Perayaan Ekarisrti di hari Minggu Adven II menurut penanggalan liturgi Gereja Katolik.

Perayaan Ekaristi berlangsung indah dan lancar. Homili Romo Yudho meneguhkan imanku, agar mempersiapkan diri menyambut kedatangan Yesus dengan terus-menerus membangun pertobatan. Jangan takut untuk bertobat, sebab Tuhan itu maha baik. Tuhan mengampuni dosa-dosa kita terus-menerus setiap kali kita datang bertobat kepada-Nya. Terutama, sebagai umat Katolik, kita selalu bisa mengalami pertobatan melalui Sakramen Tobat yang disediakan Tuhan melalui Gereja-Nya dan para imam-Nya. Tidak usah pilih-pilih imam. Tidak usah malu. Tuhan itu maha baik!

Itulah kurang lebih, inti homili dari Romo Yudho yang kutangkap dan kuresapkan ke dalam hatiku. Aku membenarkan setiap pernyataan rohaninya. Bahkan, sesudah Perayaan Ekaristi usai, aku mengalami kebaikan Tuhan itu sendiri dalam hidupku.

Romo Heri, yang membantu Romo Yudho memberkati anak-anak, mempersilahkan aku naik ke ruang makan pastoran Katedral sesudah Misa usai. Tujuannya satu, agar aku bisa menikmati sarapan pagi. Hal yang sama juga ditawarkan oleh Romo Yudho. Romo Yudho adalah Romo Ketua Kokerma (Komisi Kerasulan Mahasiswa) Kevikepan Semarang, yang juga akan tinggal bersamaku di Pastoran Johar Wurlirang. Namun, sementara ini, beliau masih tinggal dan berbagi pelayanan pula di pastoran dan paroki Katedral Semarang.

Maka, sesudah mengalami kebaikan Tuhan melalui Perayaan Ekaristi, saya pun mengalami kebaikan Tuhan melalui Romo Romo Heri dan Romo Yudho yang menawarkan padaku kesempatan untuk menikmati sarapan. Saya pun tidak menyia-nyiakan kebaikan Tuhan itu. Saya naik ke ruang makan pastoran dan menikmati sarapan bersama frater dan Romo Hantoro Pr. Luar biasa, ternyata ada menu istimewa kesukaanku di meja makan. Di sinilah, kebaikan Tuhan pun kurasakan. Maka, percayalah, bahwa Tuhan itu maha baik kepada kita, melalui berbagai cara.

Sementara saya menikmati sarapan, Romo AG Luhur Prihadi Pr masuk ke ruang makan. Beliau menawarkan kopi padaku. Beliau sendirilah yang meracik kopi untukku dan menghidangkannya bagiku. Terima kasih Tuhan atas kebaikan-Mu yang kucurahkan padaku melalui Romo Luhur.

Sesudah sarapan usai, kebaikan Tuhan masih berlanjut dicurahkan padaku. Sejak semalam (Sabtu malam, 09/12/2017), saya tidak bisa berkomunikasi oleh sebab kuota internet yang kupergunakan habis. Maka, beberapa hal yang kutulis, termasuk renungan harianku, tidak bisa kukirimkan sebab pengiriman itu tergantung dari koneksi dengan internet. Namun, Tuhan maha baik bagiku. Pagi menjelang siang itu, saya bisa berkomunikasi sejenak dan mengirimkan tulisan yang semalam sudah kukubat namun tak bisa terkirim. Romo Luhur memberitahukan password internet pastoran. Dengan demikian, aku pun mengalami kebaikan Tuhan secara beruntun dalam pagi menjelang siang itu di Pastoran Katedral, mulai dari Perayaan Ekaristi yang indah, kudus dan mulia, sarapan pagi, kopi, hingga koneksi wi-fi.

Saya berterima kasih kepada Romo Luhur dan sekaligus berpamitan untuk melanjutkan perjalanan. Sesuai rencanaku, aku akan melihat, mengikuti dan menikmati acara pameran Kitab Suci Lintas Agama yang diselenggarakan di Gedung Sukosari Katedral Semarang. Romo Tanto Pr sudah memberitahukannya padaku bahwa ada acara Pamerah Kitab Suci Lintas Agama di Sukosari Katedral Semarang. Itulah sebabnya, saya menuju ke Katedral Semarang, dan disempurnakan dengan Perayaan Ekaristi terlebih dahulu dan hidangan sarapan pagi.

Sesampai di Gedung Sukosari, Romo Tanto menyambutku. Saya dipersilahkan duduk di kursi paling depan, menikmati acara pentas seni lintas agama. Di sinilah, kebaikan Tuhan kualami kembali. Sebagai Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang, saya sangat mendukung acara ini. Pameran Kitab Suci Lintas Agama menjadi bentuk pembelajaran agar minimal umat bisa saling mengenal dan mengetahui Kitab Suci berbagai agama yang ada di negeri ini. Di sana ada stand dari agama Islam, Hindu, Buddha, Konghucu, Kristen dan Katolik yang masing-masing memajang Kitab Suci agama terkait dan membiarkan siapa saja datang untuk berkunjung, bertanya, dan belajar mengenal Kitab Suci agama-agama yang ada.

Di saat saya sedang menikmati pentas seni, berupa tarian sufi, tiba-tiba Pak Johanes meminta saya untuk bersiap untuk ikut mengisi acara pentas seni tersebut mewakili agama Katolik. Waduh, saya kaget. Saya hanya bermaksud datang untuk melihat dan menikmati pentas seni, tetapi justru diminta untuk ikut serta mengisi acara tersebut.

Hanya karena dan demi kebaikan Tuhan yang sudah kuterima sejak pagi hingga saat saya memasuki ruangan Sukosari Katedral, maka saya pun mematuhi dan mengabulkan permintaan Pak Johanes. Begitulah, saya pun menyanyikan dua lagu dengan alunan saksofon sebagai bagian dari partisipasi pentas seni lintas agama tersebut. Pertama, saya nyanyikan lagu "UntukMu Indonesia" dari album saya terbaru. Berkat bantuan Pak Asep Kadarisman, saya bisa memutar musik lagu itu. Saya menyanyi dan menium saksofon. Saya juga mengundang para penari sufi untuk menyemarakkan nyanyian itu. Putri dan teman-teman penari sufi pun bergabung dan menari dengan indah.

Lagu kedua, saya mengalunkan "Tamba Ati" dengan saksofon sopran panjangku - sebab itulah yang tersedia di mobil. Saksofon bayiku tidak kubawa, ada di pastoran Johar Wurlirang. Untung ada saksofon sopran panjang di dalam mobil, sehingga bisa kumainkan secara spontan, tanpa persiapan apa pun.


Itulah pengalaman-pengalaman sederhana bagaimana aku mengalami kebaikan Tuhan. Maka, percayalah, Tuhan itu maha baik, juga kepada Anda dan kepada siapa saja yang mau percaya dan mengandalkan kekuatan-Nya. Ia memberikan yang terbaik kepada kita, bahkan hal-hal yang tidak kita minta, yang baik pun, dianugerahkan Tuhan kepada kita. Minimal, begitulah aku mengalami semua kebaikan Tuhan itu hari ini di Minggu pagi menjelang siang di Katedral Semarang. Kebaikan Tuhan tak hanya kualami sebagai orang Katolik, melainkan dalam kebersamaan dengan semua sahabat dan umat yang beragama lain, sebagaimana tampak dalam acara Pameran Kitab Suci dan Pentas Seni Lintas Agama tersebut. Pendeta Sedyoko dari GKJ Hasanudin Semarang pun mengajak daku berfoto bersama para Ibu dari GKJ yang menampilkan puji-puiian dengan iringan angklung.

Terima kasih Tuhan, atas kebaikan yang selalu Kau sediakan bagiku. Terpujilah Dikau, kini dan selama-lamanya. Amin.***

The content does not represent the perspective of UC