Sahabat UCers, umumnya pihak pria adalah pihak yang harus menyiapkan mas kawin, hantaran, dan sejumlah harta benda lainnya demi bisa menikahi sang pujaan hati. Tak jarang pula beberapa pria terpaksa mundur dari niatan menikah karena tak sanggup memenuhi 'persyaratan' keluarga mempelai wanita.

Tapi tampaknya hal ini tidak berlaku bagi ayah satu ini.

Referensi pihak ketiga

Adalah Anont Rotthong, seorang juragan durian asal Thailand. Alih-alih meminta sejumlah harta, ia justru menjanjikan seserahan dengan nilai fantastis kepada keluarga pria manapun yang berhasil memenangkan hati anak bungsunya yang sekaligus putri satu-satunya, Kansita Rotthong (26).

Tak tanggung-tanggung, ayah asal Thailand ini menawarkan uang senilai Rp Rp 4,4 miliar, 1 unit rumah, 10 unit mobil, dan 2 unit toko durian. Ia bahkan menyiapkan sang calon mantu untuk menjadi penerus bisnis duriannya.

Hmm, tawaran yang menggiurkan ya?

Referensi pihak ketiga

Pada kenyataannya, Anont juga mematok beberapa kriteria, diantaranya memiliki keahlian memilih durian.

"Siapapun yang tahu cara membeli dan mampu memilih durian yang baik dari kebun, bisa mengambil putriku."

"Pria yang akan menjadi keluargaku harus baik dan tidak suka berjudi. Selain itu, dia juga harus selalu bekerja keras dan benar-benar mencintai putriku," lanjutnya lagi.

Pada awalnya, Kansita menganggap ayahnya bergurau. Tapi belakangan ia mengetahui betapa serius sang ayah. Kansita yang merupakan lulusan Master dari Universitas di Tiongkok ini pun bersedia mematuhi dan menerima keputusan sang ayah.

Sahabat UCers, setiap orangtua adalah wali yang seyogianya mampu memilihkan jodoh yang baik untuk anak-anak perempuannya. Tentu setiap ayah di dunia memiliki pertimbangannya sendiri dalam hal tersebut. Khusus bagi kita yang muslim, semoga kita tidak lupa, bahwa kriteria utama dalam memilih jodoh adalah melihat kepada agamanya, barulah kemudian hal yang lainnya.

---

Sumber Referensi:

grid.id/read/041656994/juragan-durian-cari-mantu-janji-berikan-uang-rp-44-miliar-1-rumah-dan-10-mobil-untuk-pria-yang-mau-menikahi-putrinya?


The content does not represent the perspective of UC