Foto Ilustrasi: Dokumentasi Pribadi, WK, 2017.

Aku berada di perhentian sementara ini selama kurang lebih 30 menit, untuk menunggu bus yang akan membawaku ke tujuan berikutnya, yakni kampus University of Queensland. Di kampus itulah aku mendapatkan pelajaran berharga, sesuatu yang membahagiakan.

Perjalanan ke kampus memakan waktu 60 menit dari perhentian ini, dengan dua kali ganti bus di pusat kota. Berita baiknya, bus selalu terjadual tepat waktu, sehingga memudahkan pengguna; memberi kepastian.

Tentu, setiap orang harus tepat waktu pula untuk menunggu bus di perhentian ini, karena bus datang tepat waktu. Sebelum dan sesudah waktu yang diperjanjikan (tertulis di box kuning yang menempel pada tiang yang dipegang itu), bus tak akan datang atau sudah lewat.

Karenanya, seseorang yang menunggu bus tersebut, harus membuat persiapan-persiapan; diantaranya: menghitung waktu berjalan dari rumah hingga ke perhentian ini, menentukan waktu kesibukan sebelum berangkat ke perhentian ini. Juga merencanakan kegiatan selama menunggu.

Aku memilih waktu tunggu yang cukup bagiku, yakni 30 menit. Agar aku cukup waktu untuk menikmati masa-masa penungguan itu.

Ya. Aku bisa menikmati pemandangan, termasuk pemandangan di belakangku itu... hihi...

Aku bisa baca buku di pinggir jalan tanpa mendapatkan sorot mata aneh kayak di kampungku.

Atau bikin tulisan di buku catatan atau di laptop sambil menikmati pemandangan dan orang lewat.

Dan apa saja lah, untuk menambah bekal persiapanku ketika telah sampai di kampus nanti.

Juga bisa bikin foto macam yang kutempel di tulisan ini hehe..

Maklumlaaah, aku kan pendatang musiman di wilayah itu hehe..

Nah... bila waktunya tiba, bus akan lewat, dengan berhenti sebentar karena melihat "tanda tangan" calon penumpang (maksudnya tanda, sign, berupa lambaian tangan dari penumpang yang sedang menunggu). "Hail the driver" (lambaikan tangan kepada pengemudi) tertulis jelas di badan bus bagian depan.

Ketika bus datang, maka penumpang yang sedang berada di perhentian itu, langsung naik bus dengan sukacita.. Karena membayangkan tempat tujuan yang diidam-idamkan!


Hidup ini juga demikian saudaraku...

Kita kini sedang berada di perhentian sementara; alam dunia. Kita sedang menunggu bus untuk membawa kita ke tempat tujuan berikutnya yang telah dijanjikan: alam akhirat.

Bus akan datang tepat waktu.

Kita yang kini sedang berada di perhentian sementara ini: apa saja yang kita lakukan? Melakukan pekerjaan bermanfaat sebagai bekal ketika telah sampai di tempat tujuan?

Atau sekadar hura-hura, sekadar tengok tengok pemandangan, sekadar selfi-selfi hingga waktunya habis dan bus datang menjemput?

Bedanya, kita tidak tahu kapan "bus" datang menjemput! Tapi jadualnya ada.. hehe... Telah tertulis.

Untuk jadual bus yang telah kita ketahui saja kita perlu membuat persiapan, bagaimana dengan "bus" yang tidak kita ketahui kapan datangnya?

Tentu, persiapan harus lebih baik kan...

Agar ketika bus datang, kita bisa naik dengan sukacita...

Karena kita penduduk musiman di dunia ini...

Namun.. apapun yang kita lakukan di tempat perhentian sementara ini..

Semua itu hanya karena belas kasih Sang Pemilik Bus, Sang Pemilik Perhentian Sementara, Sang Pemilik Tempat Tujuan, Sang Pemilik Semuanya.

Tidak ada jaminan bahwa persiapan-persiapan itulah yang mengantar kita pada kebahagiaan di "tempat tujuan".

Semua hanya karena Kasih Sayang Sang Pemilik!

Membuat persiapan pun harus pula didasarkan pada ilmu. Ilmu Membuat Perbekalan!

Dan ilmu ini, terdapat banyak sekali tafsir. Dan acapkali, tafsir itu memunculkan aneka perdebatan dan pertengkaran di antara para pengikut tafsir tersebut.

Inilah yang membuat tempat perhentian sementara ini menjadi gaduh.

Saya kawatir, kagaduhan itu memekakkan telinga sehingga tak menyadari bahwa bus telah datang... Sementara para calon penumpang masih sibuk bertengkar...

Sadarlah saudaraku...

Kita ini hanya penduduk musiman...

Yang sedang menunggu bus...

Mari menunggu dengan damai sambil beraktivitas yang bermanfaat sembari berharap pada pertolongan dan Kasih Sayang Sang Pemilik Tempat Tujuan.

Damai di bumi

Damai di hati

Sebarkan salam.



The content does not represent the perspective of UC