Dulu sebuah keluarga kaya raya tersisa seorang ayah dan anak lelakinya. Mereka menikmati waktu bersama dengan menekuni hobi yang sama, kolektor benda-benda seni. Tak terbilang benda-benda seni kelas dunia yang menjadi koleksi di rumah megah mereka. Karya Picasso, Monet, Van Gogh, dan selainnya.

Referensi pihak ketiga

Suatu waktu, perang melanda negara mereka, dan sang putra kesayangan harus membaktikan diri untuk membela negaranya. Sang Ayah setiap hari menanti dengan cemas, ia khawatir kabar buruk bisa datang kapan saja. Suatu hari kabar buruk itu sungguh datang, putranya meninggal ketika menyelamatkan seorang tentara lainnya.

Putus asa dan kesepian, kolektor itu hidup dalam kemurungan bersama seluruh benda-benda seninya yang berharga mahal. Suatu malam, seorang tentara muda mengetuk pintu rumahnya. Ia adalah satu di antara tentara yang diselamatkan putranya. Tentara itu menyampaikan kisah yang membuat sang Kolektor menangis, Putranya telah menyelamatkan lusinan tentara lainnya, sebelum maut menjemputnya. Ia akhirnya menyadari, bahwa meskipun putranya tak lagi bersama dengannya kehidupan putranya masih terus berlanjut melalui kehidupan orang-orang yang telah diselamatkannya. Pikiran itu mengurangi sedikit kesedihan dan deritanya.

Sebelum pulang, tentara muda itu memberinya sebuah hadiah. Lukisan dengan gambar putra kesayangannya. Bukan karya jenius tentu, tapi lukisan itu menampilkan wajah sang pemuda dengan entuhan yang sangat mendetail. Sejak saat itu lukisan putranya menjadi benda paling berharganya, mengalahkan minatnya pada seluruh benda-benda seni yang dipajang di museum-museum seluruh dunia.

Akhirnya sang kolektor meninggal dunia. Sesuai wasiatnya seluruh koleksinya akan di lelang secara terbuka. Di hari yang ditentukan berkumpullah seluruh kolektor dari berbagai penjuru dunia, mereka semua tak sabar memiliki koleksi langka yang akan dilelang hari itu.

Pelelangan pun dimulai dengan sebuah lukisan yang tak ada dalam katalog museum manapun, lukisan sang anak. Juru lelang berulang kali menawarkan lukisan tersebut, tapi seisi ruangan justru berdecak kesal, mereka meminta sang juru lelang melewati saja lukisan tak terkenal itu, karena tak ada yang berminat terhadapnya.

Pelelangan itu hampir rusuh dengan kekesalan para peserta lelang, dan kesetiaan si juru lelang dalam menjalankan wasiat sang kolektor. Karena lukisan anaknya harus terjual terlebih dahulu sebelum benda-benda seni lainnya dilelang.

Akhirnya sahabat lama sang kolektor membuka suara "Aku akan membeli lukisan itu seharga $10". Demikianlah lukisan itu berpindah tangan. Semua orang bernapas lega dan tak sabar menanti lelang sesungguhnya. Sayangnya juru lelang justru berkemas setelah mengumumkan "Menurut wasiat ayahnya, barang siapa yang membeli lukisan anaknya akan mendapatkan seluruh koleksi benda seninya."

---

Referensi pihak ketiga

Sahabat UCers, kisah ini tentu sarat hikmah. Kita bisa melihat bagaimana cinta seorang ayah, dan kita tentu juga bisa melihat bagaimana sikap kebanyakan orang terhadap kenangan orang lain. Tak banyak orang yang bisa melihat cinta sang ayah terhadap putranya ini. Tak banyak orang yang bisa menghargai kehidupan orang lain. Bahkan saat kita menginginkan apa yang dimiliki seseorang, kita hanya berfokus pada apa yang kita inginkan tanpa peduli dengan keinginan sang pemiliknya.

Referensi pihak ketiga

Sumber Referensi:

  1. Koin Emas Ditepi Jalan, Mario Seto, New Diglossia 2011
  2. Opini pribadi


The content does not represent the perspective of UC