Politisi Demokrat Andi Arief. (merdeka.com)

Politisi Demokrat Andi Arief tampaknya benar-benar kesal atas kehadiran Jokowi dalam acara Rapat Umum RelawanJokowi (RURJ) di Sentul International Convention Center (SICC), Kabupaten Bogor, Sabtu (4/8/2018). Mungkin risih dengan para relawan Jokowi yang tampak kompak dan militan. Maklum, pada saat SBY berkuasa selama 10 tahun di negeri ini, kader Demokrat belum pernah merasakan suasana semacam itu.

Rapat umum Relawan Jokowi yang digelar di SICC, Bogor, Sabtu (4/8/2018). (tribunnews.com)

Seperti dilansir akurat.co (4 Agustus 2018), di depan para relawan, Jokowi sempat berpidato yang berisi pesan agar para relawan jangan membangun permusuhan, jangan membangun ujaran-ujaran kebencian, jangan membangun fitnah-fitnah, tidak usah suka mencela, tidak usah suka menjelekkan orang lain. Tapi kalau diajak berantem juga berani. Berikut kutipan videonya!

Video kutipan pidato Jokowi di depan Relawan. (Sumber: youtu.be/VPQU7oPEDLI)

Lantas, bagaimana respons Andi Arief?

Andi menilai, pernyataan Jokowi berpotensi menimbulkan perang sipil yang lebih berbahaya dari terorisme. Oleh karena itu, ia meminta Kapolri untuk menangkap Presiden Jokowi. Pernyataan itu dicuitkan melalui akun Twitternya @AndiArief__ pada Sabtu (4 Agustus 2018). Berikut screenshotnya.

Screenshot cuitan Andi Arief. (Sumber: twitter.com/AndiArief__/status/1025754636186079234?s=19)

Tak pelak lagi, cuitan Andi Arief membuat sebagian netizen murka. Andi dinilai telah melakukan provokasi dengan memelintir isi pidato Jokowi tanpa memperhatikan konteks isi pidato secara lengkap.

Seorang netizen menyatakan apa yang dikatakan Presiden Jokowi bukan berantem secara fisik, melainkan dengan cara kerja keras. Ada juga netizen yang menanggapi secara serius bahwa sesabar apapun orang, kalau udah kebangetan ya harus dilawan.

Ada juga netizen yang menyindir bahwa guru pencak silat juga harus ditangkap karena mengajarkan filsafat "Keempat penjuru kita mencari saudara kalau musuh ada pantang tunduk kepala" atau "Musuh jangan di cari bila bertemu pantang untuk lari".

Rapat umum relawan Jokowi di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Sabtu (4/8/2018). (infonawacita.com)

Kalau kita cermati, tak ada pernyataan Jokowi yang mengajak relawannya untuk melakukan kekerasan. Ia justru meminta untuk menghindari permusuhan, ujaran kebencian, fitnah, mencela, atau menjelekkan orang lain. Namun, kalau diajak “berantem” juga berani.

"Sing waras aja ngalah!" (Yang berakal sehat jangan mengalah)! Begitulah kata KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) untuk melawan hoaks yang marak terjadi. Tujuannya? Agar yang tidak waras tidak terus merasa benar.

Begitulah konteks pernyataan Jokowi di tengah maraknya hoaks dan ujaran kebencian saat ini. Dalam situasi seperti itu, para relawan harus punya nyali untuk melawannya, bukan dalam pengertian berantem secara fisik yang mengumbar kekerasan. ***

The content does not represent the perspective of UC