Sahabat UCers, jika boleh memilih maka orang akan berlomba-lomba memilih keluarga yang 'sempurna'. Orangtua yang rupawan, kaya raya dan penuh kasih sayang. Sebaliknya, orangtua juga bebas memilih anak-anak yang akan menjadi bagian dari dirinya,Anak-anak yang membanggakan dan penuh bakti.

Pada kenyataannya, keluarga, entah itu anak ataupun orangtua dengan kondisi yang beragam bukanlah sebuah pilihan tapi ketetapan yang sejatinya serupa dua sisi mata uang yang saling bertolak belakang, anugerah ataukah ujian.

Referensi pihak ketiga

Pria ini tumbuh dalam kubangan rasa malu. Malu karena menjadi bulan-bulanan di sekolah tersebab ibunya yang buta sebelah ternyata hanya seorang tukang masak di kantin sekolah tempatnya menuntut ilmu.

Hari itu, saat masih berseragam putih merah ia menangis mendapati ejekan kawan-kawannya. Sang ibu yang menyaksikan hal tersebut segera berlari memeluknya dan mengusir semua anak-anak lain yang mengganggunya.

Apakah ia kemudian merasa haru dan berterima kasih? Tidak, sejak peristiwa itu rasa malu atas kondisi sang ibu justru menggeliat menjadi kebencian yang terus memuncak. Ia benci bahwa ibunya tak secantik dan seanggun ibu teman-temannya. Ia benci dengan kenyataan bahwa sang ibu harus menjadi tukang masak demi memenuhi kebutuhan hidup mereka, juga biaya pendidikannya.

Hal ini tak berubah hingga ia menamatkan pendidikan menengah atas, ia bahkan dengan sangat berterus terang mengatakan kebenciannya pada sang ibu, tanpa memikirkan perasaan wanita yang telah melahirkannya ke dunia itu.

“Engkau telah menjadikan aku bahan tertawaan. Mengapa engkau tidak segera mati saja?"

Pria ini kemudian terbang ke Singapura dengan beasiswa. Ia pun merasa bebas dan bisa mengubur masa lalunya yang baginya sangat memalukan. Selepas kuliah, ia bekerja di Singapura dan menikahi gadis setempat dan memiliki anak-anak yang lucu dan menawan.

Selama itu ia tak pernah pulang hanya beberapa kali membalas surat sang ibu yang selalu rutin mengunjunginya. Sampai suatu hari entah bagaimana sang ibu terbang ke Singapura dan berdiri tepat di luar pintu rumahnya.

Kehadiran wanita tua sederhana dengan matanya yang tak bisa melihat sebelah ternyata membuat takut anak-anak pria itu, cucu-cucu sang ibu.

Pria itu menjadi berang bukan kepalang, “Mengapa engkau begitu berani datang dan membuat anak-anakku ketakutan? Keluar dan pergi saat ini juga!“ bentaknya tanpa sedikitpun belas kasihan. Dengan tenang wanita tua itu menjawab, “Maaf, sepertinya saya salah alamat”. Lalu ia berpaling setelah sempat tersenyum pada putra dan cucu-cucunya.

Tak lama dari peristiwa tersebut, sebuah undangan reuni dari teman-teman sekolahnya datang. Ia pun bertolak ke kampung halamannya demi membanggakan diri bahwa ia kini telah menjadi sosok yang berhasil.

Seusai reuni, hatinya tergerak menuju rumah ibunya, rumah yang dibencinya karena penuh aroma kemiskinan. Rumah itu tak berubah, hanya semakin usang dimakan rayap. Ia masuk ke seantero rumah yang sempit dan tak menemukan ibunya di sana.

Saat itu seorang tetangga datang dan mengamatinya dengan teliti sebelum berkata, “Ibumu telah meninggal kemarin sore…”.

Pria itu tidak menangis atau merasa sedih. Ia hanya segera menuju ke tempat sang ibu dikuburkan. Tanah kuburannya masih basah, dan pria itu mulai merasakan secuil kesedihan kehilangan satu-satunya orangtua yang telah membesarkannya.

Tetangga yang mengabarinya tadi datang menyusul dan menyerahkan sepucuk surat lusuh, surat titipan sang ibu.

Referensi pihak ketiga

“Anakku tercinta, sungguh hati ini begitu berat menanggung rindu padamu. Pikiranku begitu kacau memikirkan keadaanmu. Ibu minta maaf atas kunjungan ibu dahulu ke Singapura yang membuat anak-anakmu takut. Ibu hanya terlalu rindu.

Ibu bahagia mendengar kau akan datang ke reuni sekolahmu, tetapi ibu tak lagi sanggup bangkit dari tempat tidur untuk datang melihatmu.

Ibu juga minta maaf telah selalu membuatmu malu dan minder, sungguh ibu sungguh-sungguh meminta maaf.

Tahukah engkau wahai anakku, waktu engkau masih kecil dulu, terjadi kecelakaan yang merenggut nyawa ayahmu dan merampas salah satu matamu?

Sebagai seorang ibu, aku tidak tega melihatmu besar hanya dengan satu mata. Karenanya, ibu berikan engkau salah satu mata ibu. Sungguh ibu sangat bahagia dan bangga, sebab engkau tumbuh dewasa dengan mata normal dan dapat menyaksikan dunia ini dengan kedua matamu.

Cintaku selalu untukmu.

Dari ibumu."

Referensi pihak ketiga

Sahabat UCers, jika ada yang tersisa dari pria itu, maka itulah penyesalan. Kertas surat itu basah oleh air mata. Kakinya yang biasa kokoh, kini lemah tak berdaya. Ia berlutut menangis di depan makam ibunya. Dadanya sesak oleh penyesalan yang sangat. Ia bahkan tak sempat meminta maaf atau sekedar mengucapkan terima kasih...

---

Sumber Referensi:

kisahislam.net/2012/10/19/kisah-ibu-bermata-satu/

The content does not represent the perspective of UC