https://pixabay.com/photo-2354583/

Sebelum lebih jauh anda membaca artikel ini, yang perlu anda ketahui, penulis tidak sedang membela dan mendukung salah satu capres+cawapres yang akan mengikuti Pilpres 2019 nanti, lho ya!.

Tulisan ini, hanya soal keprihatinan saja banyaknya pertengkaran dan ketidak akuran gara-gara pilpres yang terlihat di kolom komentar di berbagai media termasuk di platform uc.news ini.

Yang jadi prihatin, sudah menjurus saling hujat yang tak ada habis-habisnya, saling hina yang tak berujung, saling menjatuhkan sebagai sesama anak bangsa karena mendukung salah satu calon.

Mau kemana kah kita? Emangnya kita mau terpecah belah dan tercerai berai ? Apa untungnya? Rek kitu wae? (akan begitu terus? red). Yah, itulah mungkin mewakili pembaca lain yang menyayangkan dan turut prihatin dengan hal ini.

Janganlah karena Pilpres kita terpecah-belah (https://pixabay.com/photo-164695/)

Coba saja tengok, bila ada postingan yang berkaitan berita salah satu calon atau mengandung berita tentang pilpres, ramai nian dengan komen berisi saling hina dan saling menjatuhkan. weleh, weleh !

Bahkan, herannya, berita yang tidak mengandung berita pilpres pun dijadikan ajang berantem karena terpancing salah seorang komentator yang bisa juga seorang provokator dan tidak memiliki wawasan kebangsaan persatuan dan kesatuan bangsa.

Celakanya, kadang hanya karena "fanatik buta" sebagai pendukung salah satu calon, kemudian komen/ bicara tanpa data, dan atau pakai data tapi bukan data yang sebenarnya alias kabar hoaks yang ditelan mentah-mentah tanpa cek dan recheck kebenarannya dan dijadikan acuan berargumen membabi buta.

Kadang, tak sadar sebuah data hoaks malah dipakai "postulat" kemudian dengan gagahnya lantang disuarakan di berbagai media. Sehingga yang terjadi adalah saling bantah, berusaha saling menjatuhkan bahkan membunuh karakter pihak lain.

Ilustrasi (https://pixabay.com/photo-1899082)

Saking bencinya dengan calon dan pendukung lain, akhirnya menggunakan istilah-istilah yang tidak pantas untuk menyerang kubu lain, dengan meminjam nama hewan lah, bahasa kasar lah, bahkan membawa-bawa ras dan agama. cageur?!

Seperti di grup-grup whatsapp, tak jarang, anggota grup keluar alias hengkang karena tidak nyaman dengan postingan-postingan yang saling menghujat karena membela salah satu calon. Ada juga yang keluar karena merasa sakit hati karena pernyataan-pernyataan dan bahasa umpatan berlebihan dari anggota grup lain. Khan bukannya manjangkeun babarayaan, malah cari musuh ya? Emang enak punya musuh?

Jujur, sebenarnya untungnya apa ya saling menghujat dan berantem yang ujungnya jadi tidak akur dan malah memutus tali silaturahim itu ya ?!

Kita kadang lupa, politik itu dinamis "tak ada kawan abadi dan tidak ada lawan abadi". Kadang seseorang menjadi kecewa, karena tidak sesuai harapannya. Yah, begitulah politik, bro!. Awalnya kawan, bisa jadi lawan, dan sebaliknya.

Para capres+cawapres yang maju dan mencalonkan diri tentu sudah merupakan hasil saringan dari partai pengusungnya, sudah dipertimbangkan masak-masak, dan mereka lah yang mampu dan bisa mencalonkan diri, sementara kita tidak, ya khan ?!

Terlepas dari masalah niat, tentu yang tahu hanya Alloh SWT dan dirinya sendiri, mana bisa kita mengetahui isi hati mereka. jangankan kita, malaikat pun tidak tahu!

In syaa Allah, husnudzon billah saja, tentu semua calon berangkat dengan niat baik, dengan semangat menuju kemajuan dan mensejahterakan segenap rakyat Indonesia.

Ya, akhirnya, penutup tulisan ini, damai itu indah! Jangan karena gara-gara pilpres kita jadi saling hujat, saling hina, saling umpat apalagi dengan kata-kata kasar dan menyakitkan hati, saling menjatuhkan, merasa benar sendiri, saling memojokkan, dan hal-hal lainnya sekedar buang-buang energi dan malah memupuk energi negatif karena dendam dan permusuhan.

Ingat, kalau kita sudah berkeluarga, keluarga kita menunggu uang belanja di rumah, ingat saudara-saudara kita ada yang butuh bantuan, ingat saudara kita ada yang sedang tertimpa musibah dan menderita memerlukan uluran tangan, kalau anda masih lajang, tentu ada masa depan yang harus dipikirkan, ada cita-cita yang ingin diwujudkan. Jangan pamerkan keegoisan anda di atas penderitaan orang lain dan melupakan prioritas yang lebih penting.

"Lebih baik cari uang yang banyak, fokus kerja dan terutama beribadah dan menyembah kepada-Nya. Ingat kita nggak bakalan hidup terus, ada yang harus dipertanggung jawabkan setelah Malaikat Izroil diperintah Alloh SWT untuk menjemput kita pulang"

So, ikuti dan nikmati saja pesta demokrasi ini. Biar nggak salah pilih, sebelum nanti kita nyoblos dan berangkat menyalurkan aspirasi kita, mintalah petunjuk kepada Alloh SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa. Bagi umat muslim tentu dengan shalat istikharah dan berdoa minta petunjuk kepada-Nya. Bagi Non muslim, tentu juga ada cara bagaimana berdoa dan memohon petunjuk kepada-Nya.

Setelah kita mohon petunjuk kepada-Nya dan mantaps, pada saatnya cobloslah calon yang anda rasa terbaik yang anda yakini akan menjadi nahkoda yang baik untuk memimpin "perahu" Indonesia berlayar mengarungi samudra dunia dengan prestasi dan kontribusi positip terhadap kebaikan dan kedamaian di kancah internasional dan khususnya mensejahterakan rakyat Indonesia.

Sambil melihat, menimbang-nimbang dan memperhatikan, mari kita serahkan kepada Alloh SWT, mohon petunjuk kepada-Nya sebagai Pemilik dan Yang Maha Mengatur Alam Semesta ini dan yang memegang ubun-ubun dan hati calon pemimpin kita agar membawa bangsa dan negara Indonesia ini pada langkah yang diridhoi-Nya.

Sekali lagi tulisan ini bukan untuk menambah polemik, tapi sekedar mengingatkan, mari energi kita lebih baik digunakan untuk prioritas yang lebih berguna. Selanjutnya, terserah anda!

Salam damai..peace...peace...peace..! Indahnya persatuan dan kesatuan.

Sumber: Pengalaman Pribadi

The content does not represent the perspective of UC