In The Mood for Love (2001)

Referensi pihak ketiga

In the Mood for Love adalah kisah mengenai cinta terlarang dan tak terjamah buatan Wong Kar-Wai. Bertempat di Hong Kong tahun 1962, film ini mengisahkan dua sejoli yang mendapati pasangan masing-masing tengah saling berselingkuh. Mereka sendiri sebenarnya juga saling menyukai, tapi menolak cinta itu karena tak ingin menjadi sama rendahnya seperti pasangan mereka.

The Umbrellas of Cherbourg (1964)

Referensi pihak ketiga

Salah satu inspirasi terbesar La La Land ini mengisahkan seorang wanita pemilik toko payung, dan seorang mekanik yang mencintai wanita itu, dan memakai musik untuk membuat hidup si wanita lebih berwarna. Sampai si pria mesti berangkat perang ke Algeria, dan semuanya berubah.

Brokeback Mountain (2005)

Referensi pihak ketiga

Mengadaptasi cerita pendek buatan Annie Proulx, bisa dibilang romansa garapan Ang Lee ini membuka jalan bagi sinema LGBT ke ranah arus utama di industri perfilman modern. Lee membalikkan stereotip machismo koboi untuk menghadirkan romansa tragis.

Blue Valentine (2010)

Referensi pihak ketiga

Menerapkan struktur alur nonlinear untuk melompat dari era bahagia ke era sedih dalam sebuah hubungan, film ini menggambarkan realita pahit dari kisah cinta dan pernikahan, yang seiring berjalannya waktu, semakin kehilangan warnanya.

The English Patient (1996)

Referensi pihak ketiga

Diadaptasi dari novel berjudul sama karya Michael Ondaatje, The English Patient adalah fenomena di zamannya, dan berhasil meraih 12 nominasi Oscar, memenangkan 9 di antaranya, termasuk Film Terbaik. Ralph Fiennes memerankan kartografer dan pilot yang jatuh cinta pada seorang traveller yang diperankan oleh Kristin Scott Thomas, di gurun Sahara pada 1930an. Satu lagi romansa yang mesti terhalang pecahnya Perang Dunia.

The content does not represent the perspective of UC