Musyawarah Besar Pemuka Agama untuk Kerukunan Bangsa ditutup sesudah tiga hari dua malam berproses di Grand Sahid Jaya Hotel, Jakarta (8-10/2/2018). Temanya: Rukun dan Bersatu, Kita Maju. Tulisan ini merupakan narasi proses dari awal hingga akhir sebagai catatan reflektifku secara pribadi sebagai salah satu peserta di antara ratusan peserta lainnya yang datang dari berbagai daerah seluas Nusantara.

Para Peserta Mubes bersama Presiden Joko Widodo di Istana Presiden di Bogor. Referensi pihak ketiga

Tema Rukun dan Bersatu, Kita Maju bisa dirasakan dari proses musyawarah, cita-cita, harapan, dan rekomendasi yang dihasilkan selama Mubes. Beberapa hal bisa saya sampaikan terkait dengan hal itu.

Pertama, Musyawarah Besar (Mubes) ini diikuti oleh ratusan peserta. Ditargertkan oleh panitia sebanyak 450 peserta dan panitia (sesuai dengan daftar yang ada dengan nama dan agama dari seluruh Indonesia). Mubes diawali dengan upacara pembukaan di Grand Sahid Jaya Jalarta dan ditutup dengan silaturahmi dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Presiden di Bogor.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Kedua, harus dicatat bahwa Mubes untuk Kerukunan Bangsa mengukir sejarah bangsa sebagai musyawarah pertama kali di Indonesia. Bahkan, musyawarah ini diselenggarakan dengan melibatkan sejumlah tokoh dari berbagai daerah dan agama-agama dari enam agama se-Indonesia. Termasuk di dalamnya, para peserta lain yang mungkin bukan "pemuka agama" namun kusyukuri bahwa mereka mau "berkorban untuk hadir dan mendengarkan serta terlibat dalam proses"nya secara intensif, baik dalam diskusi kelompok internal, diskusi kelompok lintas, maupun diskusi pleno terbuka.

Ketiga, Mubes ditandai oleh sidang-sidang maraton dalam tiga tahapan. Pertama, sidang per kelompok internal seagama di bawah dampingan para Ketua Majelis Agama-Agama atau yang mewakilinya. Kedua, sidang paripurna yang melibatkan semua. Ketiga, sidang kelompok per isu yang dibahas yang beranggotakan lintasagama.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Keempat, selama Mubes para peserta membahas tujuh isu terkait dengan kerukunan umat beragama. Ketujuh isu adalah, pertama, pamdangan dan sikap umat beragama terhadap NKRI yang berdasarkan Pancasila. Kedua, pandangan dan sikap Umat Beragama tentang Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika. Ketiga, pandangan dan sikap Umat Beragama tentang Pemerintahan yang sah hasil Pemilu. Keempat, prinsip-prinsip Kerukunan Antar Umat Beragama (Teologi Kerukunan). Kelima, masalah Penyiaran Agama dan Pendirian Rumah Ibadat. Keenam, solusi terhadap masalah Intra Agama. Ketujuh, rekomendasi tentang faktor-faktor non-Agama yang mengganggu kerukunan antar Umat Beragama.

Kelima, rangkuman hasil pembicaraan sejauh saya mencatat bisa dinarasikan sebagai berikut. Isu pertama dan kedua terkait dengan NKRI, Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, semua sepakat bulat dan utuh menerima hal itu secara final dan definitif. Itulah kekuatan bangsa ini untuk rukun dan bersatu. NKRI, Pancasila, dan Bhinneka Tunggal Ika harga mati dan final serta harus dijaga sampai kapan pun oleh segenap warga bangsa, apa pun agamanya, di mana pun berada.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Terkait isu yang ketiga, semua juga sepakat bahwa Pemerintah yang sah hasil Pemilu harus diterima, didukung, dan dikritisi sesuai dengan hukum yang berlaku demi sejahteraan dan kerukunan. Ditegaskan pula, agar pemilu dalam level apa pun dilaksanakan secara adil, jujur dan bersih dari segala kepentingan dan kecurangan dengan cara apa pun.

Terkait dengan isu keempat, prinsip-prinsip Kerukunan Antar Umat Beragama (Teologi Kerukunan). Dirumuskan enam rekomendasi sebagai berikut. Pertama, setiap pemeluk agama memandang pemeluk agama lain sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan dan saudara sebangsa. Kedua, setiap pemeluk agama memperlakukan pemeluk agama lain dengan niat dan sikap baik, empati, penuh kasih sayang, dan sikap saling menghormati. Ketiga, setiap pemeluk agama bersama pemeluk agama lain mengembangkan dialog dan kerjasama kemanusiaan untuk kemajuan bangsa. Keempat, setiap pemeluk agama tidak memandang agama orang lain dari sudut pandangnya sendiri dan tidak mencampuri urusan internal agama lain. Kelima, setiap pemeluk agama menerima dan menghormati persamaan dan perbedaan masing-masing agama dan tidak mencampuri wilayah doktrin/akidah/keyakinan dan praktik peribadatan agama lain. Keenam, setiap pemeluk agama berkomitmen bahwa kerukunan antar umat beragama tidak menghalangi penyiaran agama, dan penyiaran agama tidak menggangu kerukunan antar umat beragama.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Terkait dengan isu kelima, yakni masalah Penyiaran Agama dan Pendirian Rumah Ibadat. Diskusi baik dalam kelompok lintas maupun sidang paripurna berlangsung seru, hangat bahkan sesekali panas. Terutama terkait dengan rekomendasi yang disimpulkan dalam hal pendirian rumah ibadat sebagaimana diatur dalam Peraturan Bersama Dua Menteri (PBM) musyawarah tidak menghasilkan keputusan bulat. Dengan bijaksana Pemimpin Sidang yakni Prof Dr Din Syamsuddin bersama para Ketua Majelas Agama serta peserta sidang sepakat untuk mencermati isu ini secara bijaksana dengan melibatkan semua pihak di kesempatan lain secara lebih intensif.

Tentang isu keenam, yakni solusi terhadap masalah Intra Agama, para peserta musyawarah juga menghasilkan keputusan bulat yang diterima semua pihak. Keputusan itulah yang kemudian diintegrasikan dengan isu keempat sebagaimana tercantum dalam keenam rekomendasi yang ada sebagai etika kerukunan kita.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Isu ketujuh, rekomendasi tentang faktor-faktor non-Agama yang mengganggu kerukunan antar Umat Beragama; peserta musyawarah sepakat agar semua pihak mencermati dan mengupayakan secara positif dan kondusif agar masalah-masalah yang bersumber dari faktor-faktor non-Agama dicermati dengan bijaksana. Masalah itu bisa bersifat ekonomi, sosial dan politik. Jangan sampai hal yang bersifat ekonomi, sosial dan politik dijadikan komoditas untuk menghancurkan kerukunan bangsa, apalagi mengalihkannya menjadi isu agama. Untuk itu, diperlukan pendidikan, gerakan kultural, seni dan budaya, serta pemberdayaan ekonomi yang menyejahterakan.

Itulah beberapa hal yang secara sederhana dapat saya rangkumkan dari proses musyawarah yang terjadi, bersumber dari catatan, rumusan, presentasi dan diskusi dalam Mubes. Semua draft dan teks hasil diskusi kelompok internal dan tim perumus per isu akan menjadi lampiran untuk rekomendasi yang dihasilkan.


Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Akhirnya, ijinkan saya menggambarkan suasana Mubes. Menurutku, suasana musyawarah sangat dinamis. Kadang cair tertawa dan bertepuk tangan. Kadang tegang dan berapi-api tetapi juga dengan bertepuk tangan. Di antara pihak-pihak yang berbeda pendapat, termasuk yang saya alami, selalu ada sikap saling hormat, bahkan jabat tangan dan pelukan. Tentu, ini hanya cara sederhana yang mungkin tidak berarti bagi orang tertentu, namun sangat penting untuk memulai dialog lebih lanjut dari hati ke hati, tanpa memaksakan kehendak kepada pihak lain, sebaik apa pun kehendak kita menurut ukuran kita sendiri.

Pada akhir sidang, Prof Din Syamsuddin secara bijaksana menggarisbawahi agar persoalan-persoalan yang belum bisa diputuskan secara rekomendatif dalam Mubes dapat ditindaklanjuti bersama oleh para Majelis Agama terkait. Itu bisa bersifat bilateral antar dua Majelis Agama yang mengalami perpedaan cara pandang sehingga bisa ditemukan titik pandang yang bermartabat demi kerukunan bangsa. Sidang pun ditutup dengan mengucapkan syukur kepada Allah SWT sesuai dengan agama masing-masing: Hindu, Buddha, Konghucu, Katolik, Kristen dan Islam.

Demikianlah narasi sederhana atas Musyawarah Besar Pemuka Agama untuk Kerukunan Bangsa ditutup sesudah tiga hari dua malam berproses di Grand Sahid Jaya Hotel, Jakarta. Pasti ada kekurangan di sana-sini dan keterbatasan. Mari kita ambil hikmat utama yakni tujuan dari Mubes ini sesuai dengan tema: Rukun dan Bersatu, Kita Maju.

Semoga kita selalu mengupayakan sikap rukun dan bersatu agar bangsa ini maju dalam menggapai kesejahteraan, keadilan dan perdamaian melalui setiap tutur kata dan pikiran yang baik satu terhadap yang lain. Tuhan memberkati.***

Sumber: catatan pribadi, bahan, hasil-hasil diskusi dan presentasi saat mengikuti Mubes Pemuka Agama untuk Kerukunan Bangsan di Jakarta (8-10/2/2018)

The content does not represent the perspective of UC