Jokowi dan keluarga. (news.detik.com)

Waketum Gerindra Fadli Zon kembali nyinyir. Ia menyebut Jokowi sedang melakukan pencitraan keluarga harmonis lewat sesi foto di Istana Kepresidenan.

Fadli Zon. (BentengSumbar.com))
"Mbok ya sutradaranya lebih bagus dalam rancang pencitraan, misalnya mau berikan pencitraan sebagai keluarga harmonis di Kebun Raya Bogor. Tapi wartawannya terlalu banyak. Harusnya kan wartawannya 2 atau 3, nanti di-share. Ini sampai 100 orang sehingga bocor pencitraan," kata Fadli Zon dalam diskusi di Seknas Prabowo-Sandi, Jalan HOS Cokroaminoto, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (12/2/2019).

Akibat nyinyirannya itu, Fadli Zon dibungkam Ketum Hanura Osman Sapta Odang (OSO).

Ketum Hanura Osman Sapta Odang (OSO). (jatimnow.com)
"Jangan begitu dong, Fadli. Anda kan tahu bahwa keluarga Jokowi itu memang bahagia kok. Masa Anda nggak mau menerima kebahagiaan orang lain?" tanya OSO di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (13/2/2019).

OSO justru mengaku heran kenapa kebahagiaan keluarga Jokowi justru dipersoalkan.

"Kalau mereka bahagia kok kita marah? Kok kita koreksi? Ya tanya aja diri sendiri keluarga kita udah bahagia belum," kata OSO seperti dikutip news.detik.com (13 Februari 2019).

Ketua DPD RI ini juga menyebut Jokowi adalah contoh yang baik bagi keluarga muda dalam membina keluarga.

"Bukti bahwa Jokowi dengan keluarganya menciptakan contoh-contoh yang baik untuk keluarga-keluarga muda. Jadi keluarga muda harus seperti dia, membina anaknya, keluarganya, mantunya," tegas OSO.

Waduh! Telak dan menohok! Dilihat dari kandungan maknanya, cukuplah sudah untuk membungkam nyinyiran politisi Gerindra.

Jadi sosok petahana yang bakal kembali bertarung dalam sebuah kontestasi politik, Jokowi memang rentan dikritik. Setiap kata-tindakan, dan perilakunya akan selalu menjadi sorotan publik, termasuk kubu oposisi.

Dalam konteks negara demokrasi, sah-sah saja opososi melontarkan kritik, bahkan yang terbilang pedas sekali pun. Namun, kalau kritik berubah jadi nyinyiran yang mengarah ke fase olok-olok, tentu layak dipertanyakan kredibilitas dan kompetensi kubu oposisi dalam mengkritik dan menyerang petahana.

Yang dikritik bukan hal-hal substansial yang terkait dengan kebijakan dan program yang bersentuhan langsung dengan hajat hidup rakyat banyak, melainkan hal-hal sepele semacam keakraban petahana dengan sang cucu tersayang atau foto keluarga petahana.

Apakah kubu oposisi memang telah kehilangan isu substansial yang bisa diangkat untuk mengkritik petahana sehingga cucu dan foto keluarga pun dijadikan sasaran?

Terkait pertanyaan ini tentu hanya kubu oposisi yang bisa menjawabnya. Gitu aja kok repot! ***

The content does not represent the perspective of UC