Dokumentasi Pribadi, WK, Gold Coast, 2017

Tulisan ini adalah untuk menyambung tulisan sebelumnya, “Aku Berada Di Perhentian Ini", yang mengisahkan perenungan sebentar tentang “kehidupan yang sebenarnya” saat berada di halte menunggu bus ke kampus University of Queensland. Pada tulisan terdahulu, sempat tertulis adanya “ilmu mempersiapkan perbekalan”, yakni perbekalan untuk melakukan perjalanan lagi menuju tempat “tujuan yang sebenarnya” dari kehidupan ini. Tujuan hidup yang sesungguhnya.

Nah, “ilmu mempersiapkan perbekalan” ini dilandasi oleh sebuah pemikiran dasar bahwa apapun persiapan seorang pejalan (salik) yang melakukan perjalanan (suluk), senantiasa bersandar pada kemurahan dan kasih sayang dari Sang Pemilik Kehidupan. Jadi bersentral kepada Sang Pemilik Kehidupan, sama sekali bukan bersentral pada “diri sendiri”. Semua adalah berkat Kemurahan dan Kasih Sayang-Nya. Ini rumus pertama.

Dalam Kasih Sayang-Nya inilah, perbekalan disiapkan dan dikerjakan, dalam masa penungguan yang aktif, di titik etape perhentian sementara yang disebut “dunia” ini.

Etape perhentian sementara, Barness Hill, Queensland pinggiran, dok. pribadi, WK, 2017.

Rumus kedua adalah, bahwa apapun yang kita kerjakan, yang disebut “amaliyah” bekal perjalanan, adalah berada dalam garis yang dikehendaki-Nya. Telah ditetapkan ketentuannya, yakni “Pedoman Hidup”, yang diturunkan melalui pewahyuan hingga sampai kepada manusia, si pejalan.

Nah, “Pedoman Hidup” inilah kemudian mengalami perjalanan pengabaran hingga kepada kita dengan menembus batas waktu. Tentu saja, dalam perjalanan pengabaran tersebut yang menembus batas waktu, menembus batas pikiran, bahasa, dsb, “Pedoman Hidup” ini mengalami berbagai tafsir dalam implementasinya.

Apa yang kita terima sebagai “pedoman hidup” (huruf kecil), dalam berbagai sebutan budaya, adalah produk tafsir atas “Pedoman Hidup” yang azali.

Bisa jadi malah tafsir atas tafsir, juga tafsir atas tafsirnya tafsir, bahkan tafsir atas tafsir yang ditafsirkan dari tafsir sebelumnya. Dan seterusnya, tafsir atas tafsir tafsir tafsir kuadrat, pangkat 3 dst.

Kenapa demikian?

Karena kita berada pada masa yang terbentang jauh dari masa pewahyuan tersebut. Dan pengabaran kabar wahyu yang memuat “Pedoman Hidup” mengalami perjalanan menembus batas waktu dan batas pikiran yang sangat panjang.

Sedangkan pengabaran ihwal kecil yang terentang dalam masa sehari saja, bahkan dalam masa satu jam saja telah mengalami distorsi konten, karena factor distorsi komunikasi.

Pernah tahu “permainan” bisik kata berjenjang”?

Itu lhoo…

Permainan yang melibatkan 30 orang pemain, yang berdiri berjajar, tidak saling melihat. Orang pertama membisikkan sebuah kalimat kepada orang kedua, untuk diteruskan (dengan bisikan pula) kepada orang kedua. Kemudian orang kedua pun melakukan hal yang sama, yakni membisikkan kepada orang ketiga, dst.

Apa yang terjadi? Kalimat yang dibawakan oleh orang pertama dengan kalimat yang diterima oleh orang ke-30, jauh berbeda! Bahkan perbedaan itu telah tampak pada orang ke-10, bahkan sebelumnya!

Kenapa terjadi perbedaan seperti ini?

Perbedaan perjalanan informasi atau kabar dipengaruhi oleh factor memori atau ingatan manusia, pemikiran, pengetahuan atau referensi orang yang dilalui informasi atau kabar tersebut. Juga, factor kepentingan (kesengajaan untuk mengubah).

Lho, kan “Pedoman Hidup” telah mengalami ‘kodifikasi’ atau “pembukuan”?

Iya, dalam proses ‘kodifikasi’ itu juga terdapat peluang dan potensi distorsi. Setelah menjadi buku, dibaca dan ditafsir, dibukukan (tafsir). Kemudian tafsir ini dibaca orang dan ditafsir (tafsir atas tafsir) dan dibukukan. Buku ini, dibaca dan ditafsir lagi (tafsir atas tafsirnya tafsir). Demikian seterusnya.

Nah, tafsir berjenjang, sebut saja multi-level tafsir ini berkembang biak hingga seantero dunia, melintasi jutaan pikiran manusia.

Apa yang telah sampai kepada kita, katakanlah sebuah ajaran tertentu, yang memuat berbagai ujaran pengenalan ketuhanan, ajaran dan ujaran kemanusiaan, kehidupan, dsb, dengan sebutan budaya masing-masing, adalah hasil tafsir multi-level tadi.

Menerawang jauh ke depan, menguak jalur-jalur pembuka gerbang kebenaran; Mount Cootha, sore hari, WK, 2017.

Mana yang benar?

Kebenaran hanyalah milik Sang Pemilik Yang Mutlak!

Kita? Kita hanyalah pengikut tafsir multi-level tadi bro… !

So, kita tidak memiliki kebenaran! Kita hanya berjuang memperoleh kedekatan dengan kebenaran. Tentu, dengan berbekal pada akal pikiran untuk mencerna “pedoman hidup” sambil mohon pertolongan dari Sang Pemilik Kebenaran.

Agar, pilihan dan usaha kita untuk berjalan mencari kebenaran ini, direstui-Nya.

Inilah rumus ketiga, berjuang mencari kebenaran dengan mendekatkan diri pada jalan-jalan yang mendekatkan kita kepada kebenaran hakiki.

Di sinilah perlunya akal pikiran yang sehat, untuk dapat memilih dan memilah (tetap sambil mohon pertolongan dan kasih sayang Sang Pemilik Kebenaran).

Perjuangan memilah dan memilih inilah yang mengandung berbagai tantangan. Terdapat berbagai macam “tawaran” menu “pedoman hidup” yang tersaji dan terhampar. Ingat: hasil tafsir multi-level!

Masing-masingnya menawarkan “pedoman hidup yang asli” dan tak jarang sambil menjelek-jelekkan yang lain. Jadi mirip orang jualan ya… hehe….

Tak jarang, pertengkaran memperebutkan klaim kebenaran terjadi di titik ini.

Para penjaja klaim kebenaran banyak melakukan klaim-klaim kebenaran, klaim kisah pewahyuan, hingga klaim pembawa kunci sorga.


Mana yang layak diikuti?

Akal sehat meneropong hamparan komoditas yang dijtawarkan para penjaja klaim kebenaran. Mount Cootha, sore hari, dok.pribadi, WK, 2017.

Menggunakan akal pikiran yang sehat sembari mohon pertolongan Sang Pemilik Kebenaran, kita lakukan dengan rendah hati dan kesadaran penuh bahwa kita adalah hamba yang tidak tahu dan sedang mencari kebenaran, akan lebih menolong kita daripada sekadar meniru-niru, mengikut membuta. Apalagi sambil mencaci para pencari yang lain.

Lhoh… sama-sama ndak tahu kok saling mencaci…. Gimana toh….

Inilah rumus keempat, selalu rendah hati menyadari kekurangan diri untuk terus mencari kebenaran tanpa menjelekkan para pencari yang lain.

Lha wong sama-sama mencari. Lebih baik kan saling membantu.

Di titik inilah, egoisme manusia mengemuka, seiring dengan pertambahan ilmunya dalam mencari kebenaran.

Mereka cenderung mengunggulkan diri sendiri dan kelompoknya, dan menjelekkan kelompok lain. Mereka lupa, jika mereka pun tak lebih dari seorang pencari yang belum tentu mendapatkan.

Mengapa egoism demikian menguat? Bagi saya ini menguat-irkan.. hehe… Dan lebih menguatirkan lagi, adalah para follower (pengikut) yang tak memberi ruang sedikitpun untuk berpikir dan memikirkan aneka kebenaran yang muncul dari framing pemikiran lain. Ingat: telah terjadi keterlanjuran adanya berbagai “menu pedoman”. Pilih mana hayoo….

Nah!

Biasanya, pengetahuan yang didapat pertama kali-lah yang dianggap paling benar. Dan dengan paduan kemalasan berpikir dan sangat berpuas diri dengan berdiam diri dalam kungkungan tempurungnya sendiri, lengkaplah sudah kepicikan berpikirnya.

Apakah tidak lebih baik: open-mind, buka pikiran, untuk membuka diri pada segala kemungkinan yang ada bahwa kebenaran mungkin berada di sana, sambil “mengetes” kebenaran yang sementara ini sedang dianutnya.

Inilah rumus kelima, membuka diri kepada kemungkinan kebenaran yang berada di luar dirinya.



Ingat: kita tidak tahu yang mana kebenaran yang hakiki, kebenaran sejati itu berada!

Kita hanya berada dalam alam pikiran sendiri yang diperkuat dengan pencarian atas “anasir kebenaran” yang kita framing sendiri berdasarkan kepentingan kita. Dengan ini kita menolak anasir kebenaran yang berada di luar area kita.

Kita hanyalah pembenar atas klaim kebenaran yang kita suburkan dengan keengganan pencarian kebenaran hakiki.

Kita hanyalah konsumen setia dari penjaja klaim kebenaran yang setiap saat menggelontorkan aneka diskursus pembenar atas jajaan mereka.

Kita hanyalah pembela klaim sendiri sambil membutakan diri terhadap kemungkinan lain yang mungkin lebih benar.

Akhirnya, yang terjadi adalah “perebutan atas klaim kebenaran”. Yang ada hanyalah bersusah payah dalam berebut mencari pembenaran, bukan kebenaran!

Epilog

Lima rumusan dalam Ilmu Mempersiapkan Perbekalan ini, tentu saja bukanlah satu-satunya rumusan mutlak ya… Ini hasil olahan pikiran dan hati saya, berdasarkan pengalaman pengembaraan intelektual dan spiritual saya.

Hasil tafsir saya atas aneka tafsir kehidupan…

Anda sependapat, atau berpendapat lain, kita diskusikan….

Dengan semangat mencari kebenaran ya… bukan pembenaran.. hehe…

Semoga Sang Pemilik Kebenaran Mutlak menolong kita.

The content does not represent the perspective of UC