Pada tulisan sebelumnya, "Lima Rumus Dasar Kehidupan Ilmu Mempersiapkan Perbekalan", tertulis bahwa dalam mempersiapkan perbekalan, kita bersandar pada "Pedoman Hidup" yang telah digariskan-Nya.

Namun dalam praktik, yang kita jumpai adalah tafsir atas "Pedoman Hidup", bahkan tafsir atas tafsir, juga tafsir atas tafsir yang dibuat dari penafsiran atas tafsir-tafsir sebelumnya. Dan aneka tafsir kuadrat bahkan pangkat 3, 4, 5 dst ini diklaim sebagai 'kebenaran'. Dan kita pun mengiranya sebagai sebuah 'kebenaran'.

"Depo Perbekalan". Berfoto di depan resto Indonesia di Brisbane, setelah menunaikan hajat sang teman yang belum terpuaskan sebelum menyantap menu perbekalan ala Indonesia. Dok.pribadi, WK, 2017.

Jadilah kita makhluk pengembara pencari kebenaran!

Modal dasar dalam mencari kebenaran adalah menyadari sepenuhnya bahwa kebenaran adalah milik Tuhan; dan kita sedang berusaha mencarinya.

Kemudian, daripada itu untuk membentuk suatu keyakinan luhur bahwa "kebenaran" yang tersaji di hadapan kita adalah tafsir atas dalil kebenaran yang juga berasal dari tafsir-tafsir sebelumnya.

Jadilah klaim daur ulang atas klaim-klaim kebenaran yang juga hasil daur ulang!

Jadi sebenarnya yang sedang terhampar dan tersaji di hadapan kita adalah rumusan-rumusan tafsirnya tafsir yang bisa beruna untuk membuka pintu gerbang kebenaran.

Menunggu sajian menu perbekalan yang dijanjikan. Dok.pribadi, Brisbane pinggiran, WK, 2017.

Maka, manakah yang benar-benar BENAR? Manakah yang benar-benar merupakan ‘kebenaran’? Bukan ‘kebenaran’ yang kebetulan?

Kalau kebetulan menemukan ‘kebenaran’ yang benar sih lumayan.. hehe..

Kita adalah makhluk sadar yang sedang mencari ‘kebenaran’.

Dengan menyadari bahwa “kebenaran” yang menampak di hadapan kita adalah “menu sajian pengantar kepada kebenaran”, bukan ‘kebenaran’ itu sendiri, maka akan lebih bijaksana dan berhati-hati serta waspada jika kita membuka diri terhadap aneka menu yang terhampar di dataran belantara tafsir atas klaim kebenaran ini.

Di sinilah kita lebih berpeluang menemukan ‘kebenaran’ yang sebenarnya.

Apa parameternya?

Kita menggunakan parameter akal sehat dan hati nurani untuk menyaring dalam menjaring klaim-klaim kebenaran tersebut.

Karena kita adalah makhluk pencari. Dan mesin pencari, searching engine kita adalah ‘akal sehat’ dan hati nurani.

Mengaktifkan ‘mesin pencari’ berarti membuka diri terhadap aneka menu sajian dari klaim-klaim kebenaran yang bertebaran. Kita tidak alergi terhadap diskusi atas aneka diskursus kebenaran.

Kita bersiap membuka diri, boleh sambil menyalakan alarm kewaspadaan berbalut argumen, namun klaim lain akan berbuat yang sama.

Kita “bertempur” dalam pencarian. Dialektika.

Burbong atau Bourbonne? Aaah... semua adalah tafsir. Saya cuma lewat di jalan ini, menuju tempat tujuan saya. Dok.pri, Queensland, WK, 2017.

Mengikatkan diri secara membuta pada framing buatan sendiri, sungguh perbuatan lucu, konyol, sia-sia dan membutakan hati nurani.

Ujilah klaim kebenaran yang kita sedang yakini dengan klaim kebenaran tawaran orang lain. Kenapa takut? Bukan menang-menangan, tetapi dalam rangka mencari kebenaran hakiki. Jangan-jangan punya kitalah yang semu.

Bukalah horizon berpikir untuk berdialektika dengan klaim kebenaran yang lain.

Mengapa kita cenderung mematikan peluang pemikiran lain sambil “menguji” klaim kebenaran kita dan orang lain?

Mengapa kita mengurung diri dengan hanya berpuas diri dengan mengonsumsi produk ‘klaim kebenaran yang belum tentu benar’?

Hanya karena ia adalah produk pertama yang menghampiri kita dan terus-menerus kita terjejali dengan diskursus tentangnya tanpa ada referensi bandingan?

Dengan hanya satu referensi, cukup meyakinkankah klaim kebenaran yang kita klaim ini?

Yang dengan kepongahan kita, kita bela klaim kebenaran yang belum tentu benar ini, dengan sembari menjelek-jelekkan dan menyalah-nyalahkan ‘klaim kebenaran milik orang lain”.

Menautkan diri hanya kepada sesuatu diskursus yang mendominasi kepala kita tanpa mau memberi peluang kepada pikiran untuk menengok diskursus lain, hanya akan memperparah kepicikan berpikir.

Menembakkan satu diskursus untuk membenturkannya dengan yang lain, agar masuk semua ke pikiran di seluruh arena permainan. Kenmore District, Queensland State, dokumen pribadi, WK, 2017.

Dan diskursus kebenaran, pada era informasi digital ini, menjadi senjata massal untuk diberondongkan setiap saat untuk meraih posisi terdepan dalam pikiran publik.

Media sosial, sebagai sarana utama era revolusi digital abad ini, menjadi ladang subur peternakan diskursus kebenaran. Nah, ini saya malah menggunakan diskursus agraria: penggunaan terma "ladang", "subur", adalah ciri khas (terdominasi) diskursus agraria! Hehe....

Nah, kalau diskursus revolusi digital, industri 4.0, era milenial, bahasanya begini:

Media sosial, sebagai sarana utama era revolusi digital abad ini, menjadi teritorial maya yang efektif bagi injeksi massal gagasan diskursus kebenaran.

Gagasan diskursus kebenaran itu diproduksi terus-menerus untuk mendominasi pikiran orang banyak. Untuk memenangkan pertempuran antar diskursus. Pemenangnya adalah diskursus yang paling banyak merasuki pikiran orang. Dialah pemenang yang layak mendapatkan predikat 'universal'.

Kita sekarang berada pada arena pertempuran antar diskursus.

Arena pertempurannya adalah media sosial.

Dan kita adalah..... ?

Apa?

Aktor pertempuran?

Korban pertempuran?

Mengapa?

Yang pasti, kita-lah pengunyah remah-remah yang terpental dari benturan antar diskursus itu.

Setelah tulisan ini, tulisan saya akan lebih banyak mengulas benturan diskursus yang berdentuman di jagad medsos.

Memonitor pergerakan medsos.... hehe.... Eh, sedang belajar dink... Di sebuah ruangan di kampus University of Queensland, School of Social and Anthropology, deket toilet...

Untuk memonitor pergerakan diskursus publik itu, saya akan gunakan "drone sosial". Drone ini akan memberi informasi kepada saya, untuk saya tulis dan bagikan di media ini, tentang volume dan frekuensi percakapan publik yang terekam medsos.

Berikut pula sentimen pernyataan dan percakapan yang lagi hot diperbincangkan publik akhir-akhir ini.

Sebagai contoh, tulisan berikut, saya akan mengetengahkan percakapan publik tentang "Mahkamah Konstitusi".

Jumlah percakapan dan sentimen percakapannya, dalam hashtag atau tagar terkait MK, menunjukkan angka keminatan, perhatian dan partisipasi publik terhadap isu atau topik yang sedang menjadi isu sentral.

"Drone sosial" ini menggunakan pendekatan analisis big data, yang dikembangkan oleh seorang doktor ahli komputasi linguistik lulusan Belanda. Saya beruntung bisa bergabung di komunitasnya untuk membantu analisis sosial dan politik saya.

Kembali ke lap... eh, klaim kebenaran tadi ya...

Ya. Klaim kebenaran menjadi makin mudah tersiar melalui kemudahan-kemudahan medsos.

Kita pun, akan semakin mudah pula mengonsumsi komoditas klaim kebenaran yang bertebaran di medsos tanpa kesulitan berarti.

Maka, akan semakin mudah pula perjumpaan antar klaim kebenaran di pikiran kita dengan klaim kebenaran di luaran sana, yang kini telah mendekat.

Tulisan ini akan berlanjut bila dan hanya bila, kita membuka diri terhadap kemungkinan adanya kebenaran di dataran sana, bukan sebatas hanya yang berada di dalam tempurung kepala sendiri.

Pembelaan atas klaim kebenaran milik sendiri sah-sah dan boleh boleh saja, bahkan wajib dilakukan.

Namun, sadarilah bahwa klaim kita bukanlah jaminan kepastian akan kebenaran hakiki. Kita hanya menafsirkan atas tafsir yang kita dapatkan, kita yakini.

Meditasi... haha... Dokumen Pribadi, WK, University of Queensland, 2017.

Mana yang layak?

Kebenaran hakiki akan kita dapatkan melalui pencarian yang ikhlas hanya berharap ridha dan petunjuk Sang Pemilik Kebenaran, dengan menggunakan mesin pencari ‘akal sehat dan hati nurani’.

Hilangkan kepongahan hati, tunduk rundukkan hati untuk menerima kebenaran yang terus kita cari.

Dialektika dalam pencarian yang ikhlas, dengan izin-Nya, insya Allah, akan mempertemukan kita dengan ‘kebenaran hakiki’, kebenaran yang layak kita terima dan anut.


The content does not represent the perspective of UC