Alkisah, ada seorang perwira asing datang kepada Seorang Guru. Ia berlutut di hadapannya, bukan untuk minta sesuatu bagi dirinya sendiri, melainkan bagi pembantunya yang sedang sekarat nyaris mati. Ia mohon kesembuhannya.


Kepada perwira asing itu, Sang Guru bilang, "Okay aku akan datang dan menyembuhkan dia." Namun luar biasa perwira asing itu bersujud dan mengatakan, "Guru aku tidak layak Guru datang ke rumahku. Ucapkan sepatah kata saja maka hambaku itu akan sembuh!" Dan begitulah Sang Guru itu menyembuhkan pembantu perwira itu dari jarak jauh tanpa ia datang menyentuh!


Pernahkah kita berdoa dan mohon bukan untuk kepentingan kita sendiri, melainkan untuk kepentingan orang lain? Perwira itu mempertaruhkan harga dirinya dengan kerendahan hatinya melulu demi pembantunya. Ia berlutut di hadapan Sang Guru yang secara tradisi kultur sosial berbeda dengan dirinya.



Saat aku mengunjungi ayah dari Mas Dadut, rekan sekerjaku, meski aku dan beliau yang kukunjungi dan doakan belum saling kenal. Sumber: Dok. pribadi


Dan yang lebih luar biasa adalah bahwa Sang Guru itu pun menerima perwira yang yang secara sosial berbeda dengannya. Ia tidak bersikap diskriminatif. Ia membantu siapa saja yang membutuhkan pertolongannya.


Dalam kehidupan kita sehari-hari, bukankah kita seharusnya mohon rahmat agar memiliki sikap yang sama baik seperti perwira asing itu maupun terutama Sang Guru itu? Saling menghormati dan menjadi promotor damai, sejahtera dan keadilan, merupakan sifat-sifat yang bisa kita teladani. Mereka peduli kepada siapa saja yang membutuhkan pertolongan, memberi kesembuhan luka bagi sesama. Semoga demikian pulalah kita!***


Gambar Sampul: Saat saya mengunjungi dan mendoakan ayah dari kawan sekerjaku, meski aku dan beliau belum saling kenal sebelumnya. Sumber: Dok Pribadi

The content does not represent the perspective of UC