Waktu dapat mengubah perspektif publik terhadap sebuah film, seperti halnya yang terjadi pada kelima judul berikut, yang dianggap kontroversial bahkan dihujat saat pertama rilis dulu, namun seiring berjalannya waktu justru dianggap masterpiece.

IN THE REALM OF THE SENSES (1976)

Referensi pihak ketiga

Mengisahkan cerita nyata mengenai gangster pemilik penginapan yang berselingkuh dengan salah satu pelayannya, film ini menampilkan adegan-adegan vulgar yang membuatnya dilarang tayang di banyak negara. Namun kini, filmnya dianggap salah satu yang terbaik perihal eksplorasi atas obsesi manusia terhadap seksualitas.

THE LAST TEMPTATION OF CHRIST (1988)

Referensi pihak ketiga

Film paling kontroversial dari sutradara legendaris Martin Scorsese ini, layaknya film lain yang menggambarkan kehidupan Yesus dengan sedikit berbeda dari Alkitab, memancing amarah banyak pihak. Di sini, Yesus memang digambarkan sebagai manusia yang mengalami dilema untuk meneruskan jalannya sebagai Anak Tuhan dan penyelamat, atau mengikuti hasrat personalnya. Namun di luar aspek religinya, The Last Tempation of Christ kini dianggap sebagai salah satu karya terbaik Scorsese.

FREAKS (1932)

Referensi pihak ketiga

Dahulu film ini memancing kontroversi karena penggambaran orang-orang dengan kondisi cacat tubuh yang menurut banyak penonton, dianggap mengeksploitasi mereka, menggambarkan mereka seperti monster. Karena kontroversi ini pula, sutradara Tod Browning kesulitan mendapatkan pekerjaan setelahnya. Belum lagi ending-nya yang mengganggu, ketika para freaks membalas dendam pada sang antagonis wanita, memutilasi tubuhnya agar terlihat seperti bebek. Kakinya dipotong, sekujur tubuhnya ditempeli bulu, dan tangannya dilumerkan agar seperti kaki bebek. Kini, publik menganggap film ini justru memberi kesempatan para penyandang cacat untuk bersuara.

BONNIE AND CLYDE (1967)

Referensi pihak ketiga

Sebelum film ini, penonton belum terbiasa melihat kekerasan tingkat tinggi di film arus utama. Bonnie and Clyde justru melakukan glorifikasi terhadap kekerasan dan kriminalitas, sehingga dianggap sebagai film tak bermoral. Beberapa tahun berselang, saat kekerasan tak lagi asing di film mainstream, publik mulai bisa menerima film ini dan menganggapnya sebagai salah satu film kriminal terbaik yang berhasil memadukan unsur tragedi romansa di dalamnya.

UN CHIEN ANDALOU (1929)

Referensi pihak ketiga

Dibuat oleh Luis Bunuel dan Salvador Dali, kasus film ini sedikit berbeda. Dikemas lewat gaya surealis yang absurd, Bunuel dan Dali memang berharap akan dicemooh, karena mereka berniat mengkritik para penonton yang "sok nyeni" lewat film ini. Bunuel bahkan sudah menyiapkan batu di kantongnya kalau-kalau seusai pemutaran penonton menyerbunya. Benar, film ini memancing kontroversial, termasuk akibat adegan "mengiris bola mata" di awal film. Namun tak butuh waktu lama bagi publik untuk memulai membencinya. Bahkan deretan orang "sok nyeni" yang jadi sasaran kritik justru memuji film ini. Dali pun mengaku kecewa karena berharap mendapat luapan amarah dari penonton.

The content does not represent the perspective of UC