Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Inspirasi falsafah Jawa yang satu ini tak mudah dipahami, namun betapa mendalam maknanya bila kita memahami dan menghidulinya. Seperti apakah?

Referensi pihak ketiga

Inspirasi falsafah Jawa itu berbunyi: agama ageming aji. Apa artinya? Dalam falsafah ini, agama dipahami berasal dari kata "a" yang berarti tidak, dan "gama" yang berarti rusak. Maka "agama" berarti "tidak rusak". Bila ajaran agama dipatuhi dan dihidupi dengan setia, manusia dan masyarakat tidak akan rusak.

Dalam falsafah Jawa, agama itu laksana ageman yang berarti busana/pakaian. Namun busana itu bernilai mulia (= aji). Siapa pun yang mengaku beragama berarti menjadi pribadi yang mengenakan busana mulia. Karenanya, ia menghindari setiap hal yang bersifat merusak jiwa, akhlak maupun raganya.

Referensi pihak ketiga

Namun jangan salah paham. Kalau agama disebut ageming aji, tidak berarti bahwa setiap saat kita bisa berganti busana. Tafsiran ini tidak sesuai dengan makna hakiki dari falsafah Jawa agama ageming aji. Benar bahwa memilih merasuk agama tertentu adalah hak pribadi yang asasi. Justru karena itulah, setiap pilihan itu harus membawa kepada kebaikan, keluhuran, dan kemuliaan diri pribadi maupun sesama dan semesta.

Nah, itulah makna hakiki yang mendalam dari inspirasi falsafah Jawa: agama ageming aji. Setiap orang yang mengaku beragama mestinya hidup dalam kesetiaan pada kebenaran, kebaikan dan kemuliaannya sebagai manusia yang membawa damai sejahtera dalam kehidupan bersama.

Referensi pihak ketiga

Bagaimana menurutmu, Kawan? Itulah refleksiku atas inspirasi falsafah Jawa agama ageming aji. Semoga bermanfaat. Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati kita semua.***

JoharT Wurlirang, 13/6/2018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi Ensiklopedi Kebudayaan Jawa.

The content does not represent the perspective of UC