Satgas yang dibentuk Polri dalam memerangi mafia di sepakbola Indonesia patut diacungi jempol. Pasalnya satgas tersebut bergerak cepat dengan menangkap beberapa orang yang diduga terlibat dalam kecurangan di kompetisi Liga Indonesia. Tentu saja kinerja yang positif dari satgas Polri ini mendapatkan apresiasi dari masyarakat.

Detik.com

Baru 9 hari bekerja, satgas terima 229 laporan

Seperti yang dilansir Detik.com, satgas anti mafia bola yang dibentuk Polri rupanya kebajiran laporan. Baru 9 hari bekerja, satgas tersebut sudah menerima 229 laporan terkait pengaturan skor. Sementara ini satgas baru menyelidiki 48 laporan dari masyarakat, namun sisa juga akan segera ditangani dalam waktu dekat.

Secara resmi satgas anti mafia bola yang dibentuk Polri, bekerja pada 22 Desember 2018. Satuan tugas itu membuka saluran hotline guna menerima laporan dari masyarakat. Menurut Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan jika selama sembilan hari bekerja sampai 30 Desember 2018 pihaknya sudah menerima 229 laporan. 

“Dari 229 laporan yang layak dijadikan bahan informasi, klarifikasi, konfirmasi, verifikasi itu ada 48 laporan. Antara lain laporan tentang pengurus klub ada 27 klub, laporan tentang wasit ada enam laporan, laporan tentang pertandingan yang aneh ada tujuh laporan, laporan tentang pemain yang aneh ada tiga laporan” ungkap Brigjen Dedi Prasetyo, seperti yang dilansir Detik.com.

Laporan terhadap pertandingan aneh?

Masih seperti yang dilansir Detik.com, Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan jika keanehan yang diadukan masyarakat itu misalnya dalam sebuah pertandingan pemain melakukan gol bunuh diri. Keanehan lainnya adalah tendangan yang seharusnya bisa gol, namun menjadi tidak gol. Satgas kemudian akan mendalami apakah ada unsur pelanggaran hukum atau tidak dari perilaku aneh tersebut.

“Untuk pemain yang aneh, pemain yang seharusnya nendang dan gol tapi tidak gol. Pemain yang gol bunuh diri, nah itu akan didalami” tambah Brigjen Dedi Prasetyo, seperti yang dilansir Detik.com.
Detik.com

Guna melengkapi data mengenai pertandingan-pertandingan aneh tersebut, maka satgas meminta data-data dari Sekjen PSSI yakni Ratu Tisha Destria. Ratu Tisha pun sudah menghadiri pemeriksaan di Direktorat Tindak Pidana Korupsi (Dittipikor) Bareskrim Polri, guna dimintai keterangannya.

“Makanya kemarin Sekjen PSSI diminta untuk memberikan keterangan dan diminta memberikan data. Tujuannya seperti ini mengkroscek pertandingan-pertandingan baik Liga 3, 2, maupun Liga 1 yang sifatnya aneh. Dari sisi lainnya akan didalami juga oleh satgas. Seperti sisi pemain yang terima suap, wasit yang terima suap” tegas Brigjen Dedi Prasetyo, seperti yang dilansir Detik.com.

Apakah 3 pertandingan terakhir Persija aneh?

Seperti yang dilansir Tribunnews.com, pelatih PSM Makassar yakni Robert Alberts sempat protes atas 3 laga terakhir yang dilakoni Persija. Pasalnya ketika itu Persija selalu dikawal oleh sosok Prasetyo Hadi. Tercatat Prasetyo Hadi menjadi wasit saat PSM vs Persija, lalu wasit keempat saat Bali United vs Persija, terakhir menjadi wasit saat laga Persija dengan Mitra Kukar. 

Tribunnews.com
“Pada saat kami bermain kandang melawan Persija Jakarta, kami mendapatkan wasit pertama kali yang dipimpin wasit itu. Setelah itu di Bali melawan Persija, wasit yang sama ada di antara wasit-wasit di situ. Bukan sebagai wasit utama, tapi sebagai wasit keempat. Dan pertandingan terakhir saat Persija menghadapi Mitra Kukar. Dia pada saat itu menjadi wasit utama di pertandingan” ungkap Robert Alberts, seperti yang dilansir Tribunnews.com.
Tribunnews.com

Wajar saja jika Robert Alberts menganggap bahwa ada keanehan dari penunjukan Prasetyo Hadi sebagai wasit. Keanehan dalam penunjukan Prasetyo Hadi sebagai perangkat pertandingan dalam 3 laga terakhir Persija, disinyalir juga dilaporkan ke satgas anti mafia bola. Alhasil jika terbukti ada keanehan dalam penunjukan Prasetyo Hadi sebagai perangkat pertandingan yang memunculkan indikasi kecurangan, maka gelar juara Liga 1 Persija bisa saja dicabut.

Komentar Anda?

The content does not represent the perspective of UC